Jumat, 02 November 2007

Seorang Tukang kayu


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
perusahaan konstruksi real estate.
Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.
Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya,
tetapi keputusan itu sudah bulat.

Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk
dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.

Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa.
Ia ingin segera berhenti.
Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.
Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak
begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
" Rumah ini adalah rumah kamu," kata sang pemilik perusahaan.
" Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini."

Betapa terkejutnya si tukang kayu.
Betapa malu dan menyesalnya.
Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama
sekali.

Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh.

Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik.
Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan
yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan
dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri.
Seandainya kita menyadarinya, sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan rumah yang sedang kita bangun.

Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.
Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.
Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

Keberhasilan yang diraih, atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri jauhke dalam diri kita masing-masing.Karena KITA-LAH YANG MENJALANI semua ini.Bukan orang lain.

" Seorang bijak pernah mengatakan demikian :
Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu.
Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu.
Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu.
Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu.
Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri.
Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang
sesungguhnya."

Seorang Tukang kayu


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
perusahaan konstruksi real estate.
Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.
Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya,
tetapi keputusan itu sudah bulat.

Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk
dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.

Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa.
Ia ingin segera berhenti.
Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.
Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak
begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
" Rumah ini adalah rumah kamu," kata sang pemilik perusahaan.
" Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini."

Betapa terkejutnya si tukang kayu.
Betapa malu dan menyesalnya.
Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama
sekali.

Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh.

Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik.
Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan
yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan
dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri.
Seandainya kita menyadarinya, sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan rumah yang sedang kita bangun.

Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.
Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.
Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

Keberhasilan yang diraih, atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri jauhke dalam diri kita masing-masing.Karena KITA-LAH YANG MENJALANI semua ini.Bukan orang lain.

" Seorang bijak pernah mengatakan demikian :
Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu.
Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu.
Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu.
Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu.
Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri.
Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang
sesungguhnya."

Seru cinta merah saga


Debur ombak biru
Berlari memburu ke arah batu
tak kuasa menghalau linu lampau
dari sana terkabar kisah perindu

Burung-burung dan angin menghening
hambus semilir nyanyi dedaunan
Di kumandang tekukur bertukar kabar bening
Ke dalam semerbak harum kemuning

pada sayap-sayap mu berembus
Gelora nafas begitu memburu
Menandakan sebuah rasa cemburu
Sedang merasuk di kalbu itu

Seru cinta merah saga
Dengan cinta yang terpancar
Kau ajarkan tentang setia, menyergah haru ku bangkit
Terjaga hati tak terbagi

Setia mu yang terentang
Kita pilih bergerak bersama angin dedaunan
Meski seperti aksara api suci
Memahami mahligai hati
Teruntuk kekasih hati

Dalam perenunganku, Nulis puisi lagi ah
Depok 1 November 2007 21:00
Erwin Arianto

Antara, Bulan, matahari dan bidadari


Matahari menerangi langkahku
Bulan menerangi malamku
Bidadari menerangi hatiku
Hati merah jambu terjebak dalam ragu

Kutunggu matahari untuk siangku
Menanti cahaya dalam setiap langkahku
Berharap Matahari menerangi hariku
Karena matahari begitu indah

Menanti sang rembulan setiap malamku
Menikmati sang rembulan dalam diriku
Berharap sang bulan menemani lelapku
Karena sang bulan begitu megah

Menanti Sang bidadari dalam rasaku
Menikmati lembut sang bidadari dalam asaku
Berhaarap sang bidadari mendampingi hidupku
Karena bidadari adalah suatu anugrah

Aku adalah angin
Hembusku menerbangkan pergi sayap bidadari
Nafasku mengarak sang awan meredupkan sang mentari
Tiupku membuat mendung menghilangkan sang bulan

Angin tidak lah berbentuk
Angin tidak bisa hadir untuk bulan, matahari dan bidadari
angin merusak sebuah nuansa
Angin datang untuk pergi kembali
Angin harus membuat suatu keputusan hati
Antara, Bulan, matahari dan bidadari

Dalam perenunganku, Mencoba menulis
Depok 18 October 2007 22:11
Erwin Arianto
http://blogerwinarianto.blogspot.com


Kentang...


Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) tersebut mengadakan " permainan ".
Ibu Guru menyuruh anak tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik ransparan
1 buah dan kentang.

Masing-masing kentang tersebut di beri nama ber dasarkan nama orang yang
dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa ... tergantung
jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong
plastik.
Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5.

Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang di beri nama sesuai nama
orang yang dibenci.
Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana
saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai
mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga
tidak sedap.
Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan
mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : " Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak
merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun
mereka pergi.
Guru pun menjelaskan apa arti dari " permainan " yang mereka lakukan.

Ibu Guru : " Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa
apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain.

Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita
pergi.
Itu hanya 1 minggu bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
Alangkah tidak nyamannya ...

Dalam Perenungan, berusaha menghilangkan Benci di hati
Erwin Arianto
Depok 31 october 2007

Menerima Kelebihan Dan Kekurangan Kita


Kehidupan yang selalu berubah serta penuh dengan perbedaan antara keadaan
seseorang dengan orang yang lain, seringlah menimbulkan kejengkelan,
kecemburuan dan putus asa. Sering kali kita menyesali, mengapa orang lain
lebih bahagia daripada kita, padahal tingkah laku mereka tidak lebih baik
daripada kita. Kita yang telah berusaha berbuat baik, penderitaan malah
sering mengikuti seperti bayangan kita sendiri. Apakah ada kesalahan kita?
Mengapa pula di dunia ini ada orang yang kaya-miskin, sehat-sakit-sakitan,
umur panjang-umur pendek, cantik-jelek, pandai-bodoh, dan masih panjang lagi
daftar ini bila semua dituliskan.

Perasaan kita kadang lebih hancur bila kita mengingat penderitaan seakan
lebih sering terjadi pada kita dibandingkan pada orang lain. Hal semacam
ini juga terjadi dalam kehidupan kampus, rasanya kita telah lebih banyak
belajar untuk persiapan ujian, kenapa orang yang lebih tidak siap
menghadapi ujian sering memperoleh nilai yang hampir sama, bahkan kadang
sama atau malah melebihi nilai kita. Kita kecewa. Kita kemudian bertanya
dalam hati, apakah kesalahan kita? Apakah benar ini cobaan hidup? Siapakah
yang mencoba? Kita terus berusaha mencari 'kambing hitam' atas kesulitan
yang dialami.

Namun, lebih baik untuk tidak menyalahkan pihak lain atas kesulitan kita.
Semua penderitaan dan masalah kehidupan pasti ada penyebabnya. Setiap orang
memiliki penyebabnya masing-masing.

Oleh karena itu, sungguh tidak tepat bila dalam diri kita masih juga muncul
kejengkelan, iri hati terhadap kebahagiaan orang lain, bahkan amat keliru
kalau kita sampai putus asa, patah semangat hidup dalam menghadapi perubahan
yang terus terjadi dalam kehidupan. setiap orang memiliki kelebihan dan
kekurangan

kehidupan ini memang selalu berisikan perbedaan, saling bertolak belakang.
Perbedaan dalam dunia ini malah sering diibaratkan sebagai saudara kembar.
Artinya, kita tidak mungkin hanya menerima satu sisi dan menolak sisi yang
lainnya. Kita hanya mau menerima sisi kebahagiaan saja dan menolak sisi yang
berisikan penderitaan. Tidak bisa. Tidak mungkin. Kita pasti menerima
keduanya.

Menerima kedua kenyataan hidup ini sering membuat pikiran kita menjadi tidak
seimbang. Kadang pikiran merasa senang, tetapi tidak jarang pikiran menjadi
sedih. Sungguh sulit untuk bertahan pada pikiran yang penuh kebahagiaan.

Bila diamati, kondisi bahwa segala sesuatu selalu berubah ini adalah
merupakan hakekat kehidupan. Perubahan itu sendiri adalah netral, tidak
menyedihkan maupun menggembirakan. Munculnya perasaan suka maupun duka dalam
menghadapi perubahan itu adalah hasil pikiran kita sendiri. Oleh karena itu,
tidak mungkin kita mampu mengubah dunia. Tidak mungkin kita mengubah
kenyataan. Hal yang mampu kita lakukan adalah mengubah cara berpikir kita
sendiri.

Siap menerima kenyataan sebagai kenyataan, bukan seperti yang kita harapkan
menjadi kenyataan. Cara berpikir yang salahlah yang membuat kita menderita.
Cara berpikir yang salah ini karena kita terlalu mengharapkan kenyataan
dapat berubah sesuai dengan keinginan kita. Makin besar keinginan mengubah
kenyataan, makin besar pula penderitaan dan kekecewaan yang akan dirasakan.
Kita ingin selalu berkumpul dengan segala sesuatu yang dicinta. Sebaliknya,
kita selalu berusaha menolak untuk bertemu dengan apapun yang kita benci.
Kenyataannya, kita pasti akan berpisah dengan segala yang dicinta dan
bertemu dengan hal-hal yang dibenci. Karena itu, kita hendaknya mengubah
cara berpikir agar mampu menerima kehidupan ini sebagaimana adanya.

Mari kita rubah cara pandang kita dalam kehidupan ini, karena sesungguhnya
orang hanya saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya. Apabila ia
melihat orang lain memiliki sesuatu yang ia sendiri belum memiliki maka ia
katakan orang itu berbahagia. Kenyataannya, kebahagiaan relatif sifatnya.
Kebahagiaan adalah urusan pribadi, tidak dapat diukur oleh orang lain.

" marilah kita menerima semua yang ada pada diri kita, baik kekurangan atau
kelebihan kita "

"Jangan mengira yang kita anggap baik untuk hidup kita adalah selalu yang
terbaik "

Dalam Perenunganku, Menerima kelebihan
Erwin Arianto
Depok, 31 Oktober 2007 21:00
Http://blogerwinarianto.blogspot.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting