Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2007

Ayo kita coba tuangkan ide dalam bentuk bentuk tulisan


Sumber Ide : Oleh Didik Wijaya

Situasi paling mengerikan yang dialami oleh penulis adalah saat kepalanya
kosong, blank, tidak memiliki ide tentang apa yang hendak ditulis. Mata
nanar menatap halaman kertas atau layar komputer yang putih polos. Ide yang
diharapkan tidak pernah mampir. Padahal sebenarnya ada banyak sumber-sumber
ide yang tersedia di sekeliling Anda. Mungkin Anda hanya tidak menyadarinya
dan melewatinya. Nah, di dalam tulisan ini ada beberapa sumber-sumber tempat
mencari ide untuk tulisan Anda.

1. Buku, majalah dan media cetak lainnya
Buka perpustakaan pribadi Anda, cari buku yang menarik perhatian Anda dan
baca. Ambil majalah, perhatikan setiap artikel. Pikirkan apa yang bisa Anda
buat dari materi yang Anda baca itu. Cerita, puisi, artikel yang ada di sana
bisa menginspirasi Anda

2. Obrolan
Rumpian, obrolan ringan atau kumpul-kumpul sesama teman arisan atau saudara
bisa menjadi sumber ide yang dahsyat. Cuma jangan terlalu terbawa suasana,
saking asyiknya ngerumpi, akhirnya Anda malah lupa tujuan semula

3. Bepergian
Keluarlah dari rumah Anda sementara waktu. Tidak perlu jauh-jauh. Kalau Anda
punya uang dan bisa bepergian ke berbagai tempat yang eksotis itu lebih
baik. Kalaupun tidak bisa cukup di dalam kota Anda. Cuma sekarang, gunakan
cara bepergian yang lain. Kalau biasanya Anda naik mobil pribadi, kali ini
cobalah naik angkutan umum. Sebisa mungkin jangan pergi ke mal, pergilah ke
pasar seni, galeri, museum, dll. Perhatikan keunikan orang-orang di sekitar
Anda. Anda akan menemukan ide tersebar di mana-mana.

4. Komunitas
Jika Anda ingin menulis di satu bidang tertentu, cara terbaik adalah
bergabung dengan komunitas yang menekuni bidang tersebut. Dari diskusi antar
sesama anggota komunitas akan terungkap problem, permasalahan dan solusi
yang ingin dicapai. Hal tersebut bisa diangkat menjadi ide.

5. Mimpi
Tidak semua orang bermimpi waktu tidur. Tetapi bila Anda bermimpi apapun,
kemungkinan isi mimpi itu bisa menjadi ide cerita Anda ketimbang Anda repot
ke dukun mencari tafsirnya.

6. Diari atau jurnal
Bersyukurlah kalau dulu Anda rajin menulis diari atau jurnal. Buka kembali
lembaran diari tersebut, baca kembali dan cari hal yang bisa menjadi ide
tulisan.

7. Film
Beli atau pinjam film di rental. Cari film yang unik yang biasanya jarang
Anda tonton. Pertimbangkan untuk menonton film yang menang di berbagai
kompetisi. Tonton berkali-kali dan pikirkan apa yang bisa Anda buat dari
film yang Anda tonton itu.

8. Televisi
Yang dimaksud televisi di sini, bukan tayangan televisi swasta di Indonesia
yang amburadul, yang sinetronnya kalau nggak melotot dan teriak-teriak nggak
puas. Tapi berbahagialah kalau televisi kabel masuk ke rumah Anda (bukan
promosi), tapi di sana Anda bisa menonton Discovery Channel, atau National
Geographic Channel. Mereka bisa menjadi sumber informasi bagi Anda.

9. Musik
Buka sampul kaset atau CD punya Anda, baca liriknya, resapi sambil
mendengarkan lagunya. Lirik suatu lagu bisa menjadi inspirasi sebuah cerita

10. Internet
Internet adalah sumber informasi yang tidak ada habisnya. Luangkan waktu
untuk mencari berbagai informasi di internet, usahakan saja supaya tidak
tersesat.
Sebenarnya ide ada dimana-mana. Ide yang muncul saat Anda termenung, atau
jongkok di kamar mandi (kok bisa ya:) sebenarnya muncul dari bawah sadar
Anda, yang muncul dari akumulasi dari apa saja yang Anda lihat, rasakan
sehari-hari. Buat kebanyakan orang, ide tidak datang dari langit. Maka dari
itu, mendekatlah kepada sumber-sumber ide yang sudah disebutkan di atas.

Cat:
Ayo kita coba tuangkan ide dalam bentuk bentuk tulisan

Selasa, 25 September 2007

Panduan Jika Otak Buntu Menulis


Panduan Jika Otak Buntu Menulis
Otak Buntu Menulis (Writer’s Block) kerap terjadi pada siapa saja. Bahkan penulis mahir juga sering menghadapi “writer’s block”–kebuntuan menulis. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi ini? Berikut sejumlah kiat sederhana:

SIMPAN TULISAN FAVORIT ANDA
Simpan tulisan Anda yang terbagus menurut Anda. Baca kembali ketika Anda menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri sampai tak berdaya menulis. Ini akan mengembalikan rasa percaya diri yang akan mendorong Anda untuk mulai menulis.

UBAH SUDUT PANDANG
Cobalah untuk melihat apa saja yang Anda tulis dari sudut pandang berbeda untuk sementara waktu. Ini akan membuat Anda menilai suatu masalah secara obyektif dan secara kreatif sekaligus, serta memacu dorongan untuk menulis.

AMBIL JARAK
Seringkali Anda harus menyisihkan tulisan secara fisik dan membiarkan alam bawah sadar Anda “mengerjakan” tulisan itu. Pergilah berjalan-jalan, atau mengerjakan apa saja yang lain, dan kembalilah setelah segar.

RUNTUHKAN KERUTINAN
Coba menulis pada waktu yang berbeda dari kebiasaan Anda, makan di restoran tradisional yang baru dibuka, belanja di pasar yang berbeda atau mengambil rute lain ketika pulang ke rumah. Melakukan sesuatu secara berbeda memungkinkan Anda untuk melihat masalah secara baru dan mengeksplorasi pengalaman baru yang tidak pernah Anda lakukan.

GANTI ALAT TULIS ANDA
Jika Anda biasa menggunakan komputer pengolah kata, coba menulis dengan mesin ketik atau tulis tangan.

UBAH LINGKUNGAN KERJA
Temukan tempat baru untuk menulis. Parkir mobil Anda di tempat dengan pemandangan indah dan mulailah menulis. Atau menulislah di taman dekat rumah Anda sekadar untuk membuat perubahan suasana.

BICARALAH KEPADA ANAK-ANAK
Sungguh, cobalah bicarakan topik yang Anda tulis pada anak-anak! Bahkan jika mereka tidak sepenuhnya memahami subyek yang Anda katakan mereka umumnya memiliki pendapat yang unik dan seringkali bisa membantu Anda melihat sebuah topik dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
asep.wordpress.com/

Kamis, 20 September 2007

Kenapa harus menulis?


Kenapa harus menulis?

Scripta manent, verba volant. Kurang lebih berarti: yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap bersama hembusan angin. Itulah ungkapan seorang filosof yang namanya telah hilang dari memori otak saya. Bukan karena sengaja saya melupakannya, tetapi mungkin saja otak saya lagi hang (Maklum pentium jaman onta). Setidaknya kalimat inilah yan memotivasi saya untuk menggerakan jari jemari saya di atas papan keyboard komputer, sekedar berceloteh tentang keresahan. Maka tidak heran seorang penulis buku best seller Berani Gagal, Billi PS Linn, mengatakan bahwa Ia tidak ingin mati begitu saja. Kemudian menjadi jasad organik setelah ditanamkan dalam tanah, tanpa mewariskan sesuatu. Dan warisan itu adalah karya tulis. Maka lahirlah buku dahsyat yang berjudul (sekali lagi) Berani Gagal, yang diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.

Suatu waktu teman saya pernah mengatakan, juka kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah. Kalimat tersebut seolah tak mau lepas dari ingatan saya. Saya berusaha ubtuk belajar menulis. Layaknya anak kecil yang baru belajar berjalan; jatuh dan jatuh, lalu bangun lagi.

Kenapa harus menulis? Buat apa menulis?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini akan memburu kita tatkala sedang memulai menulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah menjadi pembenaran akan ketidak mampuan kita untuk menuangkan ide dan pikiran kita dalam bentuk tulisan. Ada beberapa hal yang mengharuskan kita kenapa harus menulis. Pertama, menulis adalah tradisi intelektual. Sebagai mahasiswa maka menulis adalah suatu keharusan. Menulis adalah cara yang ampuh untuk melatih kembali daya ingat kita. Alangkah sia-sianya kita yang setiap hari berkutat dengan berbagai macam teori, dari teori A sampai teori Z, kemudian tidak mampu menumpahkan kembali dalam bentuk tulisan. Ilmu itu ibarat binatang buruan, membaca adalah senjatanya dan menulis adalah pengikatnya, demikian kata para ulama.

Kedua, menulis itu membebaskan. Tak sdikit orang yang menumpahkan masalah kesehariannya dengan menuliskannya dalam diary pribadi mereka. Hal tersebut mereka lakukan untuk melampiaskan apa yang mereka rasakan. setelah itu mereka cukup tenang karena tlah menumpahkannya lewat tulisan. Tak jarang dari buku catatan harian mereka banyak diterbitkan oleh penerbit buku. Soe Hoek Gie misalnya, dengan bukunya yang diberi judul Catatan Harian Seorang Demonstran (CHSD). Buku ini menjadi literatur sejarah dan menjadi saksi atas kesuraman rejim orde lama. Pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan Al banna, dengan buku yang diberi judul Memoar Hasan Al banna dan Risalah Pergerakan. Buku tersebut menjadi inspirasi bagi jamaah Ikhwanul Muslimin untuk tetap berkomitmen terhadap islam. Bung Karno dengan karya monumentalnya Di Bawah Bendera Revolusi

Ketiga, menulis merupakan alat perlawanan. Sejarah banyak mencatat mereka yang melakukan perlawanan dengan bersenjatakan pena. Yusuf Qardhawi misalnya, karena dilarang berceramah lewat mimbar, maka Ia pun mengalihkan ceramahnya lewat tulisan, maka lahirlah karya monumentalnya Al Halal Wa Haram Fi Al Islam (Halal dan haram dalam Islam). Lain lagi dengan Muhammad Quthub. Ia melahirkan karya monumentalnya yang berjudul Fii Dhilalil Qur'an (Di bawah Naungan Al-Qur'an) di balik jeruji besi (penjara). Demikian juga almarhum Pramudiya Ananta Tour (PAT), buku-bukunya lebih banyak lahir di balik jeruji besi. Pada masa orde baru, buku-bukunya diharamkan beredar di indonesia. Namun tak sedikit anak-anak muda dan aktivis mahasiswa yang secara sembunyi-sembunyi membaca bukunya. Tan Malaka dengan Madilog nya (Matrialisme, Dialetika dan Logika) juga lahir dibalik jeruji besi (penjara).

Keempat, Manfaat benefit dan Profit. Tidak dapat dipungkiri, menulis memberikan manfaat yang sangat besar bagi si penulis. Manfaat tersebut adalah manfaat benfit atau ketenaran. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, seseorang yang tulisan-tulisannya dimuat di media cetak, baik secara langsung maupun tidak langsung membuat ia menjadi tenar atau tekenal. Di sisi lain manfaat profitpun juga diperoleh jika tulisan-tulisannya dimuat di media cetak. Atau penulis skenario yang menulis untuk sebuah cerita sinetron atau film. Dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Siapa yang menyangka buku-buku meka tesebut diterbitkan oleh penerbit? Bahkan sangat laku di pasaran. Soe Hok Gie (SHG) tidak pernah becita-cita untuk menerbitkan catatn hariannya menjadi sebuah buku. Bahkan ia tidak sempat menyaksikan catatan hariannya akan diterbitkan. Dia mati muda menjelang usia 27 tahun di gunung semeru. Mira Lesmana pun mem-filmkan buku CHSD dengan judul Gie. Pada saat itu juga sosok SHG menjadi akrab di telinga kita dan anak-anak muda serta mahasiswa angkatan 2000-an, lantaran SHG hadir dalam wajah tampan Nicholas Saputra. Padahal mereka seblumnya sangat lekat dengan budaya hedonisme yang menggerogoti mereka. Maka beruntunglah saya yang membaca SHSD semenjak masih mahasiswa baru, disaat anak-anak muda lainnya secara sembunyi-sembunyi membaca novel Fredy S. Belum menjadi mahasiswa kalau belum membaca CHSD, maka sayapun memburunya di tempat rental buku. Luar biasa, itulah kesan saya thadap CHSD. Asyi Sahid Hasan Al Banna pun demikian. Ia tidak pernah menyangka catatan hariannya akan di terbitkan dan dibukukan. Oleh murid-muridnya, catatan-catatan tersebut diberi judul Majmu'a Risalah (Risalah Pergerakan). Demiakian juga PAT, ia tidak pernah bepikir untuk menrbitkan tulisan-tuliannya. Tidak perlu risau tentang tulisan kita yang tidak ditbitkan, menulis saja, menulis apa yang kita rasakan, menulislah untuk diri kita sendiri. Demikian pernyataan PAT. Menulis memiliki arti penting bagi peadaban. Bayangkan! Apa jadinya seandainya ilmu pengetahuan tidak ditulis oleh para penemu-penemu teori.

Menulis adalah pekerjaan membaca

Sebahagian orang mensinyalir, menulis bebanding lurus dengan kegiatan membaca. Hal ini jelas menambah pebendaharaan kata bagi si pembaca. Bagaimana mungkin seorang yang ingin jadi penulis hebat tapi kurang berinteraksi dengan dunia kata (membaca). Padahal, untuk menjadi penulis diperlukan keahlian meilih dan memadu kata agar terangkai menjadi sebuah kalimat yang mudah dicerna. Jadi, menulis adalah kegiatan membaca. Bahkan dalam Al-Quran, ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT adalah ayat yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk membaca: iqra'.

AS Kambie dalam makalahnya yang disuguhkan pada diklat jurnalistik dasar VII tahun 2001 silam oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) (waktu itu saya sebagai peserta), mengatakan bahwa menulis itu ibarat orang belajar naik sepeda, bila terjatuh maka coba lagi. Hati-hati dalam menulis, bila penulis terjatuh, maka pembaca akan terluka. Oleh karena itu, perbaiki tulisan anda dengan banyak membaca. Karna membaca adalah prasyarat mutlak untuk menulis.
nimal di media kampus.

Mungkin budaya literer kita tidak dimulai sejak dini. Mungkin ada baiknya anak cucu kita nantinya, sesekali mereka diajarkan untuk meminta sesuatu dengan cara menuliskannya.Agar mereka lebih akrab dengan gaya literer. Bagaimana dengan anda ?. Siapkah anda menajamkan pena untuk menorehkan sejarah dalam kehidupan kita?.

sumber://aryakelana.wordpress.com

Dalam keinginan membuat sebuah buku, semoga bermanfaat
ErwiN Arianto


Selasa, 18 September 2007

TULISAN YANG ENAK DAN PERLU DIBACA


TULISAN YANG ENAK DAN PERLU DIBACA
oleh : Fiyan Arjun

Sering saya mengalami kegagalan saat hendak menulis (menghasilkan karya). Lalu ketika saya usai menulis terus kembali saya membaca dan membacanya lagi saya sempat bingung. Bingung? Ya, saya bingung karena tidak tahu apakah tulisan yang saya tulis itu bagus atau tidak? Soalnya, sempat ketika saya menyerahkan tulisan saya kepada seorang kawan ia berkomentar," tulisan ini tidak sama sekali menarik. Tidak menggugah bagi yang untuk membacanya."

Saya yang mendengarnya komentarnya seperti itu sempat putus asa dan bergumam," yaa…percuma dong saya menulisnya? Sudah lelah menulis tapi tidak ada bagus-bagusnya tulisan saya itu."

Mungkin itulah yang ada dibenak saya bila ada seseorang yang membaca tulisan saya lalu berkomentar seperti itu. Halnya seperti komentar kawan saya itu. Akhirnya saya bertanya pada diri saya kalau begitu bagaimana tulisan yang bagus itu? Tapi bukan hanya bagus saja selain itu enak dan perlu dibaca sehingga bagi yang membacanya ikut tergugah jika membaca tulisan itu?

Itulah yang dimaksud tulisan yang baik dan bagus. Jangan asal sekedar menulis atau menghasilkan tulisan semata. Itu yang harus diperhatikan! Menulis sih gampang? Anak SMP saja bisa kok menulis jika tidak melihat apakah tulisannya itu baik dan bagus apalagi bisa menggugh pembacanya. Bukankah begitu? Kerena tulisan yang menggugah hati pembacanya itu sangat-sangatlah baik dan juga bagus. Tetapi juga tak semudah itu kita menulisnya. Halnya ini mengingatkan saya pada waktu mengikuti acara Jumpa Penulis. Disitu saya meminttandatanganya salah satu hasil karyanya (novel). Dan si penulis tadi menorehkan tandatangannya serta memberikan kata-kata bijak. "Menulis dengan nurani." Ya, kata-kata bijak itu masih saya ingat sekali sampai sekarang. Hingga akhirnya timbulah artikel ini hinga menjadi sebuah inspirasi untuk saya. Indah sekali….bukan?

Sebab itulah sebuah tulisan yang dikatakan bagus apabila tulisan itu dapat menggerakan pikiran dan menggugah pembacanya. Memang ukuran penilaian seperti ini tidak masuk akal. Tidak logis. Saya sendiri juga masih bingung. Seperti apa tuilisan yang mengugah itu sampai sekarang? Apakah kita harus merayu seperi ini. Bacalah tulisan saya ini. Pasti hati Anda akan tergugah. Apakah seperti itu? Tulisan yang enak, perlu dibaca dan sekaligus bisa mengugah pembaca? Entahlah. Namun hal itu tak semudah dilakukan karena menilaii sebuah tulisan yang bagus atau tidaknya banyak dilakukan berbagai cara.

Salah satunya adalah menulis dengan secara jujur. Menulis secara jujur? Maksudnya? Apakah semua yang kita tulis harus kita "obral" kepada sema pembaca? Tentunya hal itu terlalu berlebihan bukan? Karena dengan menulis secara jujur seluruh diri orang yang menulis terlihat secara total dan penuh pada saat ia membuat tulisannya. Atau, kata lain feel menulis sudah dapat. Alias, soul untuk menulis ikut bermain. Mungkin lebih spesifiknya lagi pada saat menulis orang yang menulis tulisan itu benar-benar mengeluarkan seluruh karakter dirinya dan kemudian diikutkan dengan setiap kata yang tertulis. Ya, mungkin seperti tulisan yang saya tulis selama ini. Karakter tulisan saya tulis itu lucu? Garing? Menarik? Bertele-tele? Atau, berlebihan. Ih, jadi ge-er nih. Mungkin pembacalah yang lebih mengetahui dari pada saya ini.

Lalu bagaimana dengan tuisan yang dimaksud dengan tulisan yang enak dibaca?

Sepengetahuan saya tulisan yang enak dibaca itu? Tulisan yang sudah dibaca langsung "dimakan" gitu maksudnya? Entah. Ini menurut saya lho? Tapi menurut sepengetauan saya baca dari berbagi buku how to penulisan tulisan yang enak dibaca itu apabila tulisan itu diatur sedemikian rupa oleh penulisnya. Baik dengan cara style bertuturnya yang baik mendiskripsikan hingga apa yang akan dituangkan dengan secara detail. Sehingga tulisan yang dihasilkan itu apabila dibaca oleh seseorang dan tulisan itu dapat menjelma bagaikan obrolan. Ya, seperti kita mengobrol sesama sahabat, ibu, ayah maupun orang lain. Lawan bicara. Saling feedback, begitu menurut ilmu komunikasi. Satu dengan saling menerima. Colin Rose mengatakan dalam karyanya yang inspiratif K.U.A.S.A.I, Lebih Cepat: Buku Pintar Accelarated Learning," tulisan yang bagus itu biasanya bernada seperti mengobrol. Tentunya untuk beberapa topik, gaya yang lebih formal pasti lebih sesuai—tetapi jangan salah menganggap bahwa
bersikap serius itu sama dengan bersikap memebesarkan."

Kalau begitu bagaimana dengan tulisan yang perlu dibaca?Padahal setiap tulisan yang asyik dan enak dibaca pasti perlu dibaca dong? Lalu bagaimana dengan tulisan yang perlu dibaca sesuai dengan keinginan pembaca? Apakah seperti slogan majalah yang laris beredar di Indonesia, Tempo. Perlu Dibaca. Tulisan yang perlu dibaca adalah tulisan yang membuat siapa saja yang membaca tulisan itu lantas terbangkitkan, selera membacanya. Bukankah sebaliknya malah bikin membosankan dan bikin ngatuk yang membacanya? Apabila selera membaca terbangkitkan, tentulah dia akah bergairah membaca dan akan membaca tulisan itu berulang-ulang kali lantas terbangkitkan. Tentulah itu ketika membacanya akan bergairah untuk membaca dan akan membaca tulisan tersebut. Dengan perasaan yang senang sekali.

Dan kreteria itu –yang "perlu" banyak didasari beberap macam hal yang perlu diketahui oleh penulis. Diantaranya:
1. Memenuhi kaidah penalaran (logika) (Reasoning).
Itu harus Masa sih saat kita menulis kata-kata yang kita tulis tidak masuk diakal dan terlu mengada-ada. Halnya kita mengarang. Apa saaj kita tulis walau tulisan yang kita tulis tidak masuk dilogika kita.
2. Melakukan pemilihan diksi yang up to date!
Yup, sebagai penulis kita harus bisa membuat kata-kata diksi) yang akurat. Jangan seenaknya tanpa berpikir apakah kata itu bermakna atau tidak? Terlebih-lebih jika tulisan itu tidak enak dibaca dan terlalu mubazir atau sebaliknya? Itu salah besar namanya! Kalu kita tidak memperhatikan hal ketentuan semacam itu
3. Mengadung koherensi yang baik dalam setiap kelompok kepala gagasan yang dirumuskan.
Jadi setiap apa yang kita tulis itu harus sesuai dengan gagasan utama (lead) yang benar-benar sesuai dengan apa yang kita tulis. Apakah kata-kata itu mewakili kalimat yang kita tulis atau tidak? Itu yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita menuliskannya. Sebab gagasan utama itu mewakili segala semua cerita atau tulisan yang akan kita tulis. Bukankan begitu?.

"Untuk itulah menulis adalah pergulatan hidup dalam intinya yang terdalam." Begitu kata Romo Sindhu. "Semacam upaya untuk menemukan dan menentukan indentitas kita yang paling orsinal. Bahwa menulis bukan hanya pekerjaan yang menyenangkan tetapi juga kerpeluan untuk mencari jati diri kita yang hilang dan tenggelam dalam perlbagai kedangkalan. Terutama penyakit pada diri manusia yaitu malas untu kmeulis.

Pahmilah apa yang saya tulisan ini. Saya akan mencoba memberikan suatu bandingan. Begini apabila pada saat menuliskan gagasan seseorang penulis berbohong. Tulisannya itu akan ikut "berbicara" dan tidak akan bagus hasilnya. Dan terlihat dari apa yang ia tulis seakan-akan tulisan itu bukan dirinya yang berbicara. Seperi tulisan tanpa roh. Terlalu dibuat-buat dan tidak elegan serta fleksible. Terlalu mengada-ada. SEMAU GUE GETHO LOH? Penulis menuliskan tulisannya secara tidak jujur. Inilah sebenarnya yang ingin saya maksudkan. Bukan arti dalam sesungguhnya. Penulis itu berbohong? Bukan! Itu bukan sama sekali. Melihat apa yang ia tulis tidak sesuai apa yang sebenarnya terjadi. Itulah semua kreteria sebuah tulisan yang enak dibaca dan perlu dibaca serta bisa mengugah hati pembacanya.

Akhirnya kata dari saya sebagai seorang penulis apabila ingin tulisannya itu ingin mendapatkan perhatian dari orang lain (pembaca) maka kita harus jujur pada diri sendiri. Tentunya ya tulisan yang kita tulis dalam kalimat selam ini. Bukan hanya bias bicara saja? Dan selanjutnya kita menulis itu untuk memberikan sebuah implemetasi diri agar tulisan yang kita tulis mengalir apa adanya seperti air. Tapi jangan mengalir seperi air di sunga atau kali yang sudah jelas diatasnya itu banyak kotoran (sampah). Menjijikan. Berani mencoba?

Kamis, 30 Agustus 2007

BAGAIMANA MEMBUAT BUKU YANG BERGIZI TINGGI?


BAGAIMANA MEMBUAT BUKU YANG BERGIZI TINGGI?
Penulis: Hernowo

Salam jumpa!

Senang sekali dapat terus bertemu dengan Anda di Mizan OnLine. Meskipun pertemuan kita hanya lewat jembatan bernama kata-kata, namun saya harus bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk terus berlatih menulis. Semoga, saya sungguh ingin berharap, pembaca juga mendapat manfaat dari tulisan-tulisan saya.

Mulai minggu depan, insya Allah, saya akan membuat tulisan berseri di rubrik "Plong" dengan topik sebagaimana judul tulisan saya ini. Saya ingin mengajak para pembaca untuk melakukan eksplorasi bersama saya ke dunia buku, tepatnya dunia yang di dalamnya kita dapat menikmati bagaimana seseorang membuat buku.

Saya akan mencoba menjadi pemandu pembaca dalam menjelajahi hampir semua corak buku yang pernah dibuat oleh para penulis andal. Tentu, kata "hampir semua" itu tidak lantas merujuk ke seluruh buku yang ada di dunia. Saya akan memilihkan buku-buku yang, menurut penilaian saya, memberikan hal-hal baru.

Titik tekan saya dalam memilih buku-buku yang memberikan hal-hal baru itu terletak pada bagaimana seorang penulis menyajikan gagasannya, dan bagaimana penyajian itu dapat memberikan suasana lain saat seorang pembaca masuk ke dalam dunia buku yang diciptakan penulis tersebut.

Apa yang saya rumuskan itu tentulah masih abstrak. Namun, saya akan mencoba menunjukkannya pada serial tulisan saya yang berkaitan dengan "bagaimana membuat buku yang bergizi tinggi". Pada tahap awal, kita akan belajar kepada penulis-penulis sukses, seperti Tony Buzan, Spencer Johnson, Jalaluddin Rakhmat, J.K. Rowling, Helen Fielding, dan masih banyak penulis lain, yang menuangkan gagasannya secara apik dan tertata.

Selanjutnya, setelah kita memiliki sejumlah pengetahuan tentang corak buku yang disajikan dengan sangat kaya dan berbeda, kita akan masuk ke pengenalan komponen buku secara sangat tajam. Dalam buku Mengikat Makna, saya telah menunjukkan secara selintas anatomi buku. Nah, di dalam serial tulisan saya kali ini, saya akan mempreteli (membongkar secara detail dan satu per satu) setiap komponen dan kemudian mengenali apa fungsi tiap komponen itu dalam "membunyikan" buku.

Setelah semuanya itu, saya akan menunjukkan kepada pembaca bagaimana kita dapat mengelola energi kreatif yang ada di dalam diri kita untuk menciptakan judul-judul yang "menggigit". Atau, dalam konteks lain, misalnya, adalah bagaimana kita memanfaatkan benar potensi kita untuk memadukan bahasa rupa (visual) dan bahasa kata (tekstual) secara melejit dan menarik.

Pembaca yang budiman, membuat buku memang dapat mengasyikkan. Bagi saya, membuat buku bagaikan melakukan pemotretan atas kehidupan diri saya, dan kemudian hasil pemotretan itu saya petakan secara apik di sebuah album. Menata foto yang diletakkan secara miring, atau memberikan komentar foto yang mengesankan, hampir persis keadaannya saat saya merakit gagasan orang lain ke dalam buku-buku saya.

Tentu, saya akan berusaha sekuat daya saya untuk tidak terjebak pada pemaparan yang pelik, rumit, dan cepat membuat para pembaca bosan. Saya akan mencoba memberikan paradigma baru dalam membuat buku. Saya akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan saya sependek mungkin dan bersifat "how to" (bagaimana melakukan sesuatu secara praktis). Doakan saja ya supaya saya dapat memenuhi syarat-syarat yang telah saya rumuskan tersebut.

Yang lain, saya ingin proses saya menyajikan serial tulisan ini berlangsung interaktif. Artinya, saya mengajak para pembaca untuk memberikan respons dan bertanya tentang apa saja. Anda dapat langsung mengirim e-mail ke info@mizan.com, atau bisa langsung juga mengirimkannya kepada saya. Saya akan senang sekali apabila proses interaksi ini terjadi. Sebab hanya dengan bertukar pengalaman secara aktiflah, sebuah gagasan atau perumusan itu dapat terus direvisi dan disajikan dengan lebih baik.

Kemudian, selain itu pula, saya juga akan membangkitkan minat para pembaca untuk punya kemauan, terutama, dan kemampuan menulis buku. Tentu, saya tidak bisa mengarahkan agar pembaca membuat buku ini dan buku itu. Pilihan membuat buku dalam konteks ini atau konteks itu, saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca. Saya akan menunjukkan saja, di dalam serial tulisan saya ini, bahwa potensi membuat buku itu sebenarnya sudah tertanam di dalam diri pembaca.

Nah, akhirnya sampailah saya pada penjelasan soal kenapa harus menggunakan kata "bergizi" dan ditambah dengan kata "tinggi" lagi. Kan sudah cukup kalau buku itu "bergizi" dan tidak usah gizi yang dikandungnya tinggi? Benar sekali. Buku yang bergizi saja sudah cukup. Buku yang bergizi sudah pasti akan membuat seorang pembaca buku mampu menyerap gizi-ruhani yang luar biasa. Kenapa harus ditambahi kata "tinggi"?

Pembaca, saya menambahi kata "tinggi" agar di dalam menuliskan serial tulisan ini ada semacam tantangan. Saya memang belum punya konsep tentang "bergizi tinggi" itu seperti apa. Atau bagaimana merumuskan secara objektif dan bisa disetujui oleh hampir semua kalangan tentang buku yang miliki "gizi tinggi" itu. Sungguh, pada saat ini, itu belum terpikirkan oleh saya.

Saya, sekali lagi, hanya ingin ada tantangan. Soal buku yang bergizi, saya kira sudah saya jelaskan di dalam dua buku saya, Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Saya merumuskan buku-buku yang memiliki gizi adalah buku-buku yang mampu menggerakkan pikiran pembacanya. Dan proses penggerakan pikiran yang dapat dilakukan oleh sebuah buku, ada kemungkinan, hanya lewat susunan kata yang memang memenuhi kaidah penalaran, diksi yang baik, serta juga koherensi dan komposisi yang yahud pula, yang disajikan oleh sebuah buku.

Lantas, kira-kira bagaimana rumusan soal buku yang bergizi tinggi? Semoga saja, serial tulisan saya nanti dapat memecahkan soal ini. Selamat menikmati, dan senang dapat membantu Anda.

Bandung, 21 Agustus 2003

Mizan.com

Kiat Menulis Resensi Buku


Kiat Menulis Resensi Buku
sumber: Republika.co.id

Menulis resensi atau kritik buku sebenarnya nggak sulit. Kalau mau, kamu juga bisa. Nah, berikut ini ada beberapa tips agar kamu piawai menulis resensi.
* Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.

* Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi masalah yang ditampilkan buku tersebut.

Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan. Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung pendapatmu.

* Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.

* Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele. Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu. Tidak sulit, kan? Oke deh, selamat mencoba. berbagai sumber/cho

Karena bermimpi membuat buku,
Maka saya kumpulkan beberapa artikel tentang membuat buku
Cikarang, 30 Agustus 2007
Erwin Arianto

Proses Penerbitan buku


Proses Penerbitan buku

Oleh: Manik Praba
Sumber: Penerbit.net

Bicara soal proses Penerbitan cukup panjang, tetapi saya gambarkan secara umum sbb:

- Misalkan anda sebagai pengarang ingin mengajukan naskah kumpulan puisi ke Penerbit A.
- Yang anda ajukan cukup naskahnya dalam bentuk ketikan (misalnya Ms Word) dan bisa disertai print outnya agar memudahkan Penerbit dalam memproses naskah tsb. Penerbit biasanya memberikan banyak kemudahan bagi pengarang yg sudah banyak mengarang buku. Penerbit mau saja menerima kiriman naskah melalui email dsb.
- Penerbit akan menentukan apakah naskah tsb layak diterbitkan dan kira2 dibutuhkan masyarakat (ada penilaian terhadap isi naskah maupun kwalitas/ bobot pengarangnya)
- Lalu Penerbit akan mengontak pengarang dan membicarakan isi naskah maupun honor.
- Sistem honor tergantung sistem yg dianut oleh Penerbit. Bisa bersifat langsam (seolah naskah tsb dibeli oleh Penerbit) dengan memberi harga pada naskah tsb, misalnya dibeli seharga Rp 3.000.000.- dan dibayar secara sekaligus atau bertahap. Tergantung pengajuan Penerbit dan disetujui oleh pengarang.
Kerugian sistem ini bagi pengarang adalah:
Penerbit bisa mencetak naskah tsb dalam jumlah banyak dan bisa dicetak beberapa kali, tanpa memberi honor tambahan lagi kepada pengarang.
- Bisa juga dengan sistem Royalti dimana pengarang memperoleh persentase terhadap harga naskah/ buku tsb. Rata2 nilai royalti: 10% s/d 15% dari harga buku yang terjual. Pengarang2 yg sudah terkenal sering ditawari honor yang tinggi karena Penerbit yakin buku karangannya bakal laku keras. Misalnya: buku tsb akan dicetak sebanyak 5.000 buah/eksamplar dan dijual dengan harga Rp 15.000.- per eksamplar. Maka pengarang akan memperoleh honor (dianggap semua buku terjual): 10% x 5.000 x Rp 15.000.- Sering pembayaran ini pun dilakukan secara bertahap misalnya 1 x 3 bulan atau 1 x 6 bulan.
Bila buku tsb dicetak ulang lagi, maka Penerbit membuat perjanjian lagi dan pengarang akan memperoleh royalti lagi. Biasanya Penerbit akan mengontak pengarang lagi untuk cetak ulang (karena bisa jadi pengarang tidak bersedia lagi dan mau pindah ke Penerbit lain).

Bila sistem honor telah disepakati bagaimana dengan naskah itu sendiri?
Dengan menggunakan softcopy naskah yg diberikan dalam bentuk ketikan MsWord tsb, Penerbit akan mengolahnya dan mengatur layout serta membuat desain covernya. Desain cover bisa juga diajukan oleh pengarang bila pengarang juga seorang yg ahli dalam desain. Setelah desain cover dan layout isi buku telah selesai, maka akan dimulai proses cetak.

Proses cetak sering dimulai dengan mencetak contoh (dummy) dulu dan melihat hasilnya agar kelak tidak terjadi kesalahan besar. Setelah itu akan dilakukan proses cetak sejumlah yg diinginkan (misalnya: 5.000 buah buku).

Penerbit akan memberikan buku contoh hasil cetakan bagi pengarang untuk file pribadinya dan kemudian Penerbit akan melakukan pembayaran kepada pengarang sesuai Perjanjian yg telah disepakati/ditandatangani. Bila buku tsb ingin dicetak terus dan ternyata pengarangnya telah meninggal, maka perjanjian dan hak pembayaran royalti akan diberikan kepada ahli waris (istri/ anaknya) dan seterusnya Penerbit akan berurusan dengan ahli warisnya.

Penerbit akan menyebarkan buku tsb ke toko buku untuk dibeli oleh masyarakat.

Perjanjian Royalti adalah antara pengarang dan Penerbit, sedangkan Hak Cipta adalah Hak Pengarang yang bisa diurus oleh pengarang dengan mendaftarkannya ke Departement Kehakiman & HAM, Direktorat Hak Cipta.

Penerbit tidak mengurus Hak Cipta karena Hak Cipta adalah urusan pengarang (kecuali naskah tsb telah dibeli oleh Penerbit dan sepenuhnya menjadi hak milik Penerbit).

Tidak banyak buku yg didaftarkan Hak Ciptanya oleh pengarang, biasanya buku2 yg sangat terkenal atau buku yg bakal dibutuhkan terus yg didaftarkan Hak Ciptanya oleh pengarang. Contohnya: buku cerita Wiro Sableng didaftarkan oleh pengarangnya ke Dept. Kehakiman & HAM.

Demikian gambaran singkat tentang penerbitan, royalti dan Hak Cipta.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 10 Agustus 2007

Menulis di Media Cetak Indonesia (3)



Menulis di Media Cetak Indonesia (3)

Oleh: Mario Gagho *

Meresapi Gaya Orang Menulis


Di bagian sebelumnya disebutkan bahwa cara terbaik memulai menulis adalah LEARN THE HARD WAY. Langsung menulis menurut insting, tanpa belajar teori; bak cowok atau cewek yang rajin menulis diary kala sedang jatuh cinta. Dan langsung dikirim ke media.



Cara lain adalah dengan BANYAK MEMBACA TULISAN/ARTIKEL ORANG yang sudah dimuat. Resapi tutur bahasanya. Teliti cara pengungkapan idenya.
Umumnya tulisan apapun tak luput dari tiga unsur: pengantar, isi dan penutup/kesimpulan. Ketiga unsur ini tak pernah disebut tapi bisa dirasakan. Semakin banyak kita membaca tulisan orang, akan semakin mudah kita menyerap dan membedakan mana yang pengantar, isi dan kesimpulannya; dan semakin mudah kita 'meneladani' gaya dan cara ekspresinya.



Biasanya kita akan cenderung meniru gaya penulis tenar yang bentuk dan ide tulisannya paling sesuai dengan ide-ide kita. Rizqon, misalnya, yang cenderung terbawa gaya menulis Ulil Abshar-Abdalla, tokoh muda NU idolanya yang walaupun cuma lulus M.A. sudah sering memberikan general lectures di berbagai universitas beken Amerika seperti di Harvard Univ., Michigan Univ., dan lain-lain. Saat ini, Rizqon tampak sudah pindah meneladani gaya tulisan Saifuddin Zuhri, menteri agama RI era Sukarno yang produktif menulis. Anda bisa melihat gaya baru tulisan Rizqon Khamami ini dalam kumpulan tulisannya di situsnya: http://rizqonkham.blogspot.com/



Sedangkan Zamakhsyari Jamil cenderung meniru gaya menulis tokoh pujaannya dari Riau, Tabrani Yunis, bekas tokoh Riau Merdeka, yang kolomnis tetap di koran Riau Pos. Tulisan-tulisan Tabrani Yunis yang slengekan dan tajam tampak mewarnai tulisan ustadz muda KBRI ini. Kumpulan tulisannya yang sudah dipublished maupun belum bisa Anda temui di situsnya http://e-tafakkur.blogspot.com/



Saya sendiri, yang kata ayah saya "berotak lemah dan bodoh", cenderung meniru gaya tulisan yang mudah dipaham orang, kendatipun saya tidak terfokus meniru satu gaya tertentu. Tulisan-tulisan Hamka, Amin Rais, Jalaluddin Rahmat sangat mudah dicerna otak saya yang lamban, dan mungkin sedikit banyak mempengaruhi gaya saya menulis.

Kamis, 09 Agustus 2007

Menulis di Media Cetak Indonesia (2)


Menulis di Media Cetak Indonesia (2)

Oleh: Mario Gagho *
Bagaimana Memulai
Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:
1. Mempelajari teori menulis baru praktik;

2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.


Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman rekan-rekan di India yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.
Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis. Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung membaca buku, koran atau majalah. Pernah saya coba belajar bahasa Inggris dengan membaca grammar, hasilnya sama: pusing kepala.


Sulitkah Menulis?
Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap "santai". Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media -- dimuat atau tidak itu tidak penting-- barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian. Seperti kata Rhoma Irama, penyanyi kesayangan Malik Sarumpaet.


Topik Tulisan
Topik tulisan, seperti pernah saya singgung dalam posting beberapa bulan lalu, adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di Indonesia? Dan lain-lain.
Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan ustadz KBRI, Rizqon Khamami.
Rendah Hati dan Sifat Kompetitif
Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita. Ini terutama bagi rekan-rekan yang sudah menjadi dosen yang di mata mahasiswa-nya mungkin sudah paling 'wah' sehingga mendorong perasaan kita jadi 'wah' juga alias ke-GR-an.
Nah, menulis dan mengririm tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan.
Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya.Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.
It's your choice: you are either being a loser or a winner. Being a loser is easy. Just sit down in the chair, behind your desk. And feel comfort with your hallucination of being "a great guy" which is actually not, as a matter of fact.[]

Technorati Profile

Senin, 09 Juli 2007

Panduan Dasar Menulis Esai


Panduan Dasar Menulis Esai


Sebuah esai bisa memiliki beberapa tujuan, tapi memiliki struktur dasar yang sama. Kamu bisa menulis esai untuk mempertahankan sudut pandang tertentu atau menerangkan langkah-langkah penting untuk melengkapi tugas. Dengan kata lain, esai kamu akan memiliki format dasar sama apa pun tujuannya. Jika kamu mengikuti beberapa langkah mudah ini, kamu akan menemukan bahwa esai itu hampir-hampir menulis sendiri. Kamu akan hanya bertanggung jawab pada menyediakan ide yang merupakan bagian penting dalam esai.Langkah-langkah sederhana ini akan menuntunmu dalam proses penulisan esai:1. Pilih Topik untuk Esaia. Topik DitentukanKamu tidak harus memilih topik. Jika begitu, kamu masih belum siap untuk menuju langkah selanjutnya.Pikirkanlah tentang tipe tulisan yang akan dihasilkan. Apakah itu berupa tinjauan umum atau analisis spesifik atas suatu topik? Jika tinjauan umum, kamu bisa melangkah lebih lanjut. Jika harus berupa analisis, pastikan topik kamu sudah spesifik. Bila terlalu umum, kamu harus memilih subtopik yang lebih sempit untuk dibicarakan.Sebagai contoh, topik "Kenya" terlalu umum. Kalau tulisan kamu hanya sebuah tinjauan umum, ini sudah mencukupi. Bila tugas kamu adalah menulis analisis spesifik, topik ini terlalu umum. Kamu harus mempersempit menjadi seperti "politik di Kenya" atau "Kebudayaan Kenya".Setelah menemukan topik yang cocok, kamu bisa menuju ke langkah selanjutnya.b. Topik Tidak DitentukanJika topik tidak ditentukan, semua terserah padamu. Kadang-kadang tugas untuk memulai menjadi sangat menegangkan. Kenyataannya, ini berarti bahwa kamu bebas memilih topik yang menarik, yang sering kali akan membuat esai kamu lebih kuat.Paparkan TujuanmuSatu hal yang pertama kali harus kamu lakukan adalah memikirkan tujuan esai yang akan kamu tulis. Untuk memengaruhi orang agar percaya seperti halnya kamu, untuk menerangkan kepada orang-orang cara menyelesaikan tugas tertentu, untuk mengajari orang tentang seseorang, tempat, sesuatu atau ide, atau lainnya? Apa pun topik yang kamu pilih harus sesuai dengan tujuan itu.Beberkan Subjek yang MenarikSekali kamu sudah memutuskan tujuan esai kamu, tuliskan subjek-subjek yang menarik bagimu. Tak masalah apa tujuan esai kamu, topik dalam jumlah banyak akan pas.Jika kamu memiliki kesulitan menemukan subjek, mulailah dengan melihat ke sekeliling. Apakah ada sesuatu yang menarik di sekelilingmu? Pikirkan tentang hidup kamu. Apa kesibukan terbesarmu? Barangkali itu bisa jadi topik menarik. Jangan evaluasi subjeknya; tuliskan saja semua yang terlintas di kepala.Evaluasi Masing-Masing Topik yang PotensialJika kamu bisa memikirkan setidaknya sedikit topik yang bisa cocok, kamu harus mempertimbangkannya satu persatu. Pikirkan tentang perasaanmu atas topik itu. Jika kamu harus mendidik, pastikan itu subjek yang kamu ketahui benar. Jika harus memengaruhi, pastikan dengan subjek itu kamu bisa membuatnya menarik. Tentu saja, faktor yang paling penting dalam memilih topik adalah jumlah ide yang kamu miliki dari topik tersebut.Bahkan jika tak ada subjek yang menurutmu akan menarik, usahakan pilih salah satu. Barangkali itu akan bisa menjadi topik yang menarik dibanding yang kamu kira.Sebelum siap melanjutkan ke proses menulis esai, lihat sekali lagi topik yang telah kamu pilih. Pikirkan tipe tulisan yang akan kamu hasilkan. Apakah itu berupa tinjauan umum atau analisis spesifik? Jika berupa tinjauan umum, kamu sudah siap melangkah ke tahap berikutnya. Jika harus berupa analisis spesifik, pastikan topik kamu sudah cukup spesifik. Jika masih terlalu umum, kamu harus memilih subtopik yang lebih sempit untuk didiskusikan.Setelah menemukan topik yang cocok, kamu bisa menuju ke langkah selanjutnya.2. Kelola Ide KamuTujuan dari outline atau diagram adalah untuk meletakkan ide-ide kamu tentang topik ke atas kertas dalam bentuk yang sudah lumayan tertata. Struktur yang kamu buat di sini mungkin masih berubah sebelum esai tsb lengkap sehingga jangan terlalu merasa menderita karenanya.Putuskan kamu akan memilih struktur outline yang pendek-pendek atau yang lebih mengalir. Jika kamu memulai salah satunya dan ternyata tidak cocok denganmu, kamu bisa memulai dengan yang lain.Diagram
Mulai diagram kamu dengan lingkaran atau garis horisontal atau bentuk apa pun yang kamu suka di tengah-tengah halaman.
Di dalam bentuk atau di atas garis, tuliskan topikmu.
Dari tengah-tengah bentuk atau garis kamu, gambar tiga atau empat garis keluar halaman. Pastikan benar-benar keluar dari tepi halaman.
Pada masing-masing akhir garis, gambar lingkaran atau garis horisontal atau apa pun yang sudah kamu gambar di tengah-tengah halaman.
Di dalam masing-masing bentuk atau garis, tulis ide pokok yang kamu punya tentang topik kamu, atau tujuan utama yang ingin kamu buat.- Jika kamu berusaha untuk memengaruhi, kamu ingin menuliskan argumen-argumen terbaik.- Jika kamu berusaha menjelaskan sebuah proses, kamu ingin menulis langkah-langkah yang harus diikuti. Kamu akan butuh mengelompokkan ini ke dalam kategori-kategori. Jika kamu memiliki masalah dalam mengelompokkan langkah-langkah ke dalam kategori, coba pergunakan Awal, Tengah, dam Akhir.- Jika kamu berusaha untuk memberi informasi, kamu ingin menuliskan kategori utama ke dalam informasi yang bisa dibagi-bagi.
Dari masing-masing ide pokok, gambar tiga atau empat garis keluar dari halaman.Pada bagian akhir dari masing-masing garis tsb, gambar lingkaran atau garis horisontal lain atau apa pun yang kamu gambar di bagian tengah halaman.
Di dalam masing-masing bentuk atau garis, tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide pokok.
Begitu selesai, kamu sudah mempunyai struktur dasar untuk esai kamu dan siap untuk dilanjutkan.
Outline
Mulailah outline kamu dengan menuliskan topik pada bagian atas halaman.
Selanjutnya, tuliskan angka Romawi I, II, dan III menurun di tepi halaman.
Pada masing-masing angka Romawi tuliskan ide-ide pokok yang kamu punya tentang topik kamu, atau poin utama yang ingin kamu buat.- Jika kamu berusaha untuk memengaruhi, kamu ingin menuliskan argumen-argumen terbaik.- Jika kamu berusaha menjelaskan sebuah proses, kamu ingin menulis langkah-langkah yang harus diikuti. Kamu akan butuh mengelompokkan ini ke dalam kategori-kategori. Jika kamu memiliki masalah dalam mengelompokkan langkah-langkah ke dalam kategori, coba pergunakan Awal, Tengah, dam Akhir.- Jika kamu berusaha untuk memberi informasi, kamu ingin menuliskan kategori utama ke dalam informasi yang bisa dibagi-bagi.
Di bawah masing-masing angka Romawi, tuliskan A, B, C menurun di samping halaman.Lalu di masing-masing huruf tsb tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide pokok
Setelah selesai, kamu sudah memiliki struktur dasar untuk esai kamu dan siap untuk melanjutkan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting