Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2008

Cinta karena Allah


Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya
tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan
tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih
emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga,
derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu
melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan
meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah
dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang
sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila,
orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut
oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah
para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang
begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan
manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh
lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi
segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam
beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di
jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan
mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa
ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara,
menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi
mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah,
tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang
dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya
pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat
dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat
Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu
langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya
dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di
saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah
sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin
melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti,
namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran
cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk
terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut,
jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah,
tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang
hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta
dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di
akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia,
Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana
ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan
salah satu penyebab do'a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih
menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun
melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do'a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki
sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

Bagaimana mungkin do'a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah,
sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara
dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak
terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud,
sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan

Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu.
Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena
disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku
kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada
hambanya yang beriman¡Ã„

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita,
agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak
bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita
membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah,
agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban
untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang
perlu kita persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu
berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti
qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur'an dan haus akan ilmu. Sedangkan
kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah,
dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan
nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai
cinta dan keridhaan-Nya.

Jumat, 07 Desember 2007

LIDAH


LIDAH


''Siapa yang menahan lidahnya, pasti Allah menutupi auratnya, siapa yang dapat menahan amarahnya, pasti Allah akan melindunginya dari siksa-Nya, dan siapa yang memohon ampunan kepada Allah, pasti Allah menerima permohonan ampunannya.'' (HR Ibnu Abu Dunya).
Bahaya lidah sangat besar dan tidak ada orang yang bisa selamat darinya kecuali orang yang diam. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa yang diam, pasti selamat.'' (HR Tirmidzi).
Menjaga lidah memang tidak mudah. Salah satu dampak dari bahaya lidah adalah banyaknya fitnah yang bermunculan di mana-mana, hampir tak ada satu tempat pun di dunia ini yang selamat dari fitnah akibat lidah. Benar apa kata peribahasa bahwa lidah lebih tajam dari pedang.
Orang yang mampu menjaga lidah, berarti dialah orang yang akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Suatu ketika, Sahl bin Sa'ad RA bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Wahai Rasululullah, apakah jalan keselamatan?'' Nabi menjawab, ''Tahanlah lidahmu, perluaslah rumahmu dan tangisilah kesalahanmu.'' (HR Tirmidzi).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lidah) dan dua kakinya, maka aku menjamin baginya surga.'' (HR Bukhari).
Betapa hebatnya orang yang mampu menjaga lidah. Sampai-sampai dikatakan dalam sebuah hadis bahwa orang yang menjaga lidahnya, mampu mengalahkan setan. ''Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena sesungguhnya dengan demikian, kamu dapat mengalahkan setan.'' (HR Thabrani).
Begitulah para sahabat, mereka lebih rela mengunci lidahnya dari berkata yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya. Setiap perkataan pasti ada yang mencatat dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Karena itu, menjaga lidah merupakan salah satu upaya untuk menghindari hisab di akhirat. ''Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.'' (QS Qaaf: 18). Wallahua'lam.

Selasa, 27 November 2007

Bila cintaku bertasbih


Bila cintaku bertasbih
ku panjat doaku padaMu ya Allah
ku panjat cintaku abadi semoga tidak akan hilang

cintaku pada Rasul.
cintaku pada ilmu
cintaku pada kesejahteraan
cintaku pada kekasih dunia akhiratku...
cintaku bertasbih terus bertasbih

la illaha illallah...........muhammadar rasullullah
Ya Allah Ya Rahman.. Ya Rahim
bawalah cintaku ini dalam tasbih zikruallahMu
dan abadikan juga jodohkanku dengan cintaku yang satu ini
berkatilah kami dan rahmati kami
dengan rezeki dan juga kebahagiaanMu


Dalam perenunganku, mencoba berzikir pada MU ya Allah
Depok 26 November 2007 15:36
Erwin Arianto

Kamis, 22 November 2007

Kemana engkau akan melangkah


Kehidupan dunia terkadang membuat kita lupa akan hakikat untuk apa kita ada,
untuk apa Allah menciptakan kita. Allah menciptakan kehidupan ini sebagai
ujian dan Allah telah menyiapkan balasannya. Kehidupan dunia ini seperti
persinggahan sementara sebelum ke kampung akhirat.

Mengapa dan untuk apa kita ada?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Pernahkah kita merenungkan mengapa kita ada? Mengapa kita hidup di dunia
ini?
Apakah kerena keinginan dan rencana-rencana kita sehingga kita ada? Tidak,
kita tidak mungkin dapat menginginkan dan merencanakan karena kita belum
ada.
Lalu, apakah karena keinginan dan rencana kedua orang tua kita? Bukan juga,
berapa banyak pasangan suami istri yang menginginkan dikarunia anak tetapi
belum juga diberi. Adanya kita bukan atas kehendak kita, bukan juga karena
kehendak orang tua kita, lantas atas kehendak siapa?

Allah ta'ala menjelaskan dalam Al-Quran yang mulia

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),
maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari
segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami
jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki
sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai
bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan,
dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang
dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya" (Al-Hajj: 5)

Ya, adanya kita, adanya manusia, adanya jin, adanya alam semesta ini karena
kehendak dan rencana Allah. Lantas, adanya kita tentu bukan karena Allah
kurang kerjaan, iseng, atau hanya main-main saja, Allah menegaskan hal ini
sebagaimana firman-Nya

"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara
keduanya dengan bermain-main" (Al-Anbiya: 16)

Allah menerangkan bahwa Dia ingin menguji para hamba-Nya, siapa yang taat
dan siapa yang durhaka, jadi kehidupan di dunia kita adalah untuk ujian!
Sadarkah kita? Mengapa kalau UAN, kalau SPMB, begitu disiapkan dengan betul,
sementara ujian yang paling besar terkadang kita lupa, atau pura-pura lupa,
atau yang lebih parah lagi kelau kita tidak tau bahwa hidup kita untuk
diuji! Mereka hidup seperti binatang, mereka hanya mengenyangkan perut dan
apa yang di bawahnya, mengumpulkan harta, berbangga-bangga dengan dunia,
lalu mati! Allah menjelaskan

"[Dialah Allah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun" (Al-Mulk:2)

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Betul bahwa kehidupan adalah ujian kita, Allah akan menguji kebaikan amalan
kita. Mengapa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya? tetapi
Allah mengatakan yang paling baik amalnya. Dijelaskan oleh Fudhail bin Iyadh
bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling
sesuai dengan contoh karena amalan tidak akan diterima kecuali ikhlas karena
Allah dan sesuai dengan contoh Nabi shalallahu'alaihi wa sallam. Kalau
begitu, penting sekali seseorang harus ngaji, harus belajar ilmu syar'i
karena tidak mungkin kita mengetahui materi ujian, mengetahui apa-apa yang
dilarang dan apa-apa yang diperintahkan kecuali dengan menuntut ilmu syar'i.
Bagaimana kalau seseorang ikut ujian tetapi tidak mau tahu materi ujiannya?

Surga dan Neraka, yakinkah kita?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Mengapa beberapa waktu yang lalu ketika diskusi tentang poligami, kita
begitu yakin dan bersemangat membela ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi
tentang syariat poligami; mengapa ketika diskusi tentang Ahmadiyah, kita
begitu lantang mengatakan bahwa dalam surat Al-Ahzab ayat 40: "Khootaman
Nabiyyin" maknanya adalah penutup para Nabi, tetapi,…mengapa kita jarang
mengungkit-ungkit ayat dan hadits tentang surga dan neraka? Apakah kita lupa
atau pura-pura lupa sehingga topik ini jarang kita pelajari?

Seringkali kita lupa diri, tidak tahu diri, sehingga kita lupa dengan tujuan
hidup ini, yakni ujian! Untuk mengingatkan kembali untuk apa kita di dunia
ini, saya bawakan hadits-hadits tentang surga dan neraka

Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda
"Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah
memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan
daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya
kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis" Anas bin Malik melanjutkan,
"Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan
dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil
terisak-isak karena tangisan" (HR Bukhari dan Muslim)

Bagaimana saudaraku? Apakah hatimu tergetar mendengar hadits ini? Kalau
seandainya tidak, maka engkau adalah manusia yang sangat perlu untuk
dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah
mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya
mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka
di neraka. Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah
kita berikan untuk Islam dan kaum muslimin? Mereka dihina, dimusuhi,
dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal,
lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?

Dalam riwayat lain disebutkan:
"Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian
akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak
akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian
akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada
Allah" Abu Dzar berkata, "Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku
hanyalah pohon yang tumbang" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad
yang hasan)

Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita dihisab di akhirat, hanya ada 2
pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi
yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…,
beliau kalau diminta memilih daripada dihisab, beliau memilih menjadi
sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus
dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan
untuk hari perhitungan nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan
kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa "waktu adalah ibadah", atau
malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kurang
bermanfaat atau bahkan diisi dengan dosa dan kemaksiatan?!

Allah menjanjikan bagi hambanya yang taat akan diberi balasan yang tiada
taranya di Surga kelak. Surga merupakan tempat yang tidak ada di dalamnya
kecuali kenikmatan, dan kenikmatan yang paling nikmat adalah melihat wajah
Allah, dzat yang selama ini kita bergantung kepadanya, dzat yang ketika kita
sakit kita memohon kepada-Nya agar disembuhkan, dzat yang ketika kita
kekurangan kita memohon kepadanya, dzat yang apabila kita mendapat nikmat
kita bersyukur kepada-Nya, dzat yang selalu kita mohon kebaikan-kebaikan
kepada-Nya.

Kita adalah perantau …
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Bayangkan jika kita dalam sebuah perjalanan untuk menuju suatu pulau-kampung
halaman kita. Kemudian dalam perjalanan melewati sebuah pulau kecil, nahkoda
memerintahkan agar para penumpang singgah 3 hari untuk mengumpulkan bekal
berupa makanan dan minuman. Kemudian kita masuk hutan untuk mengumpulkan
bekal. Setiap penumpang bertanggung jawab masing-masing dan tidak dapat
saling berbagi bekal, nafsi..nafsi. Semuanya memikirkan keselamatan
masing-masing karena begitu berat perjalanan bahkan seorang bapak tidak
mungkin mau berbagi bekal dengan istri dan anak-anaknya, seorang ibu juga
tidak akan mau berbagi bekal kepada anaknya, masing-masing sangat
membutuhkan bekal tersebut untuk keselamatannya.

Apa yang akan engkau lakukan dalam 3 hari tersebut? Tentu engkau akan
memanfaatkan waktu yang hanya 3 hari untuk mencari makanan, mencari
buah-buahan dan air segar untuk bekal perjalanan karena perjalanan masih
jauh. Tetapi tidak semua seperti itu saudaraku, banyak diantara mereka malah
bersenang-senang di pulau kecil tersebut, membuat rumah bahkan ditingkat,
bersenang-senang sampai lupa bahwa mereka akan kembali melanjutkan
perjalanan sehingga harus mengumpulkan bekal yang cukup untuk sampai ke
pulau kampung asal kita. Ketika nahkoda mengumumkan agar semua penumpang
naik ke kapal karena perjalanan akan dilanjutkan, apa yang terjadi? Sebagian
penumpang mengumpulkan bekal yang cukup, sebagian hanya sedikit saja, dan
sebagian lagi lupa untuk pulang ke kampung halaman-mereka malah
bersenang-senang di pulau tersebut, membuat rumah bertingkat, membuat sawah
yang luas, beternak binatang dan lain sebagainya. Orang yang mengumpulkan
bekal cukup maka akan sampai ke kampung asal dengan selamat, orang yang
mengumpulkan bekal sedikit akan sakit-sakitan di perjalanan bahkan bisa jadi
meinggal dunia, adapun orang yang lupa akan perjalanan akan tinggal dipulau
kecil tersebut dan tidak akan pernah kembali ke kampung asalnya. Kemudian
tersiar kabar bahwa Pulau kecil tersebut ternyata pada hari ke 7 sudah
hilang tersapu tsunami!

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Hakikatnya kita semua adalah perantau, kita hanya singgah sebentar di dunia
ini. Ingatlah saudaraku, kampung halaman kita adalah di Surga, kakek moyang
kita asalnya tinggal di surga. Bukankah Adam 'alaihissalam asalnya tinggal
di surga? Kalau kita tidak dapat pulang ke surga, berarti kita telah terlena
seperti penumpang yang bersenang-senang dipulau kecil tersebut.

Saudaraku, saya sampaikan wasiat yang wasiat ini juga merupakan wasiat Nabi
shalallahu'alaihi wa sallam dan Sahabatnya yang mulia, Ibnu Umar
radhiallahu'anhuma

Dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, ia berkata:
"Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam pernah memegang pundakku, lalu
bersabda, 'Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pegembara'.
Ibnu Umar radhiallahu'anhuma berkata, "Apabila kamu berada pada waktu sore
janganlah kamu menunggu pagi hari, dan jika kamu berada pada waktu pagi
hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum
datang waktu sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang kematianmu'
(HR. Bukhari, Hadits Arbain An-Nawawiyah No.40)

Demikianlah wasiat Nabi shalallahu'alaihi wa sallam dan juga wasiat sahabat
Ibnu Umar radhiallahu'anhuma.

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Agar engkau tidak tersesat, agar engkau dapat pulang ke kampung
halaman-yakni ke Surga, maka engkau harus mempelajari agama ini dengan
serius. Untuk urusan kuliah saja engkau dapat serius, berapa banyak waktu,
fikiran, tenaga dan dana tercurahkan untuk kuliah? Sekarang, berapa banyak
waktu, fikiran, tenaga dan dana untuk menuntut ilmu syar'i yang telah engkau
curahkan?

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada
keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku,
(HR. Al-Hakim)

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Kita sering berdoa"Rabbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah"
Ya Rabb, berikanlah kami kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di
akhirat" Kebaikan di dunia adalah iman dan amal shalih dan kebaikan di
akhirat tidak ada yang lain kecuali Surga. Tidaklah dikatakan iman kecuali
dibangun diatas ilmu.

Kemanakah engkau akan pergi melangkah?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Jalan petunjuk telah jelas, dan jalan kesesatan juga jelas. Saya yakin bahwa
engkau akan mengikuti jalan petunjuk, mempelajari ilmu syar'i dan
mengamalkannya. Engkau tidak akan mau terlena seperti penumpang yang
bersenang-senang di pulau kecil itu bukan? Jangan sampai engkau memohon
ketika ajal menjemput, pada saat meregang nyawa kemudian engkau memohon
kepada Allah

Kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang
telah aku tinggalkan (Al-Mu'minun :100)

Dan saat itu, keinginanmu tidak pernah akan dikabulkan

Selasa, 20 November 2007

Banyak Dosa Banyak Pahala


Sebagian manusia telah menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, mereka
menganggap bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak sehingga akan
menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan. Padahal jika seseorang
meremehkan dosa-dosa, maka sungguh ia telah terpedaya oleh syaitan

Sebagian manusia telah menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, mereka
menganggap bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak, mereka
menganggap bahwa amalan-amalan shalih mereka sudah begitu melimpah sehingga
pahala yang mereka kumpulkanpun sudah begitu menggunung. Mereka menganggap
bahwa shalat malamnya, puasa senin kamisnya, haji dan umrahnya, infaqnya dan
seterusnya dari amalan-amalan shalih yang mereka kerjakan akan seperti
lautan yang akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan. Jika
seseorang menganggap remeh suatu dosa, ketahuilah bahwa sesungguhnya dia
telah terpedaya oleh syaitan, walaupun mereka telah banyak beramal dengan
amalan-amalan ketaatan.

Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...
Allah ta'ala memberikan permisalan tentang orang yang telah mengumpulkan
banyak kebaikan akan tetapi nanti di akhirat, amalan kebaikan yang
diandalkannya tidak dapat banyak bermanfaat, Allah berfirman

"Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan
anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun
itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu
sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup
angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS.
Al-Baqarah:266)

Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma ketika menjelaskan ayat di atas, beliau
mengilustrasikan dengan orang kaya yang beramal karena taat kepada Allah,
kemudian Allah mengutus setan padanya, lalu orang itu melakukan banyak
kemaksiatan sehingga amal-amalnya terhapus (Tafsir Ibnu Katsier)

Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...
Janganlah sekali-kali kita meremehkan dosa karena kita menganggap sudah
mempunyai amal kebaikan yang banyak. Ketahuilah wahai saudaraku bahwa belum
tentu amal kebaikan yang kita kerjakan dihitung sebagai amal shaleh di sisi
Allah, apakah karena kita tidak ikhlas atau tidak sesuai dengan yang
dicontohkan Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam. Selain itu, amal
kebaikan juga akan dapat terhapus dengan kemaksiatan-kemaksiatan.

Tsauban radhiaallahu'anhu meriwayatkan sebuah hadits yang dapat membuat
orang-orang shalih susah tidur dan selalu mengkhawatirkan amal-amal mereka.
Tsauban radhiaallahu'anhu berkata, Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam
bersabda

"Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang
datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu
Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan, Tsauban bertanya, Ya
Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti
mereka sementara kami tidak mengetahui!, Beliau bersabda, Mereka adalah
saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam
seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa,
mereka melakukannya (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam
Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)"

Saudaraku, masihkah kita merasa bangga dengan amal-amal kita kemudian
berbuat dosa dan menganggap bahwa dosa kita akan tenggelam dalam lautan
amalan shalih kita.

Maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersabar, bersabar dan bersabar. Sabar
dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhi dosa-dosa.

Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang mengatakan bahwa sabar adalah terus
menerus sampai seseorang menapakkan kakinya di Surga kelak.

Ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu tentang makna
takwa, Abu Hurairah kemudian bertanya kepada orang tersebut, Apakah engkau
pernah melewati jalan yang berduri? Ia menjawab, Ya pernah. Abu Hurairah
bertanya lagi, Apa yang engkau lakukan, Ia menjawab, Jika aku melihat duri
maka aku menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya, Abu
Hurairah berkata, Seperti itulah takwa

Maka bukanlah dikatakan takwa jika seseorang sengaja menerjang rambu-rambu
syariat, mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atau meninggalkan
apa-apa yang diperintahkan-Nya.

Kemudian kita juga harus takut karena kita tidak tau kapan ajal akan
menjemput! Kalau kita amati disekitar kita, maka kita dapati bahwa jumlah
manula lebih sedikit daripada orang muda dan anak-anak, hal ini menunjukkan
bahwa kebanyakan manusia meninggal dalam usia muda, maka waspadalah!

Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...
Terakhir saudaraku, hendaknya kita senantiasa bertakwa dan tidak meremehkan
dosa-dosa agar kita tidak seperti yang digambarkan dalam ayat dan hadits di
atas, semoga Allah menjadikan kita nanti, termasuk yang diseru dalam
firman-Nya

"Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, Maka masuklah
ke dalam Surga-Ku (Al-Fajr: 27-30) "

Referensi
1. Tafsir Ibnu Katsier
2. Silsilatul Ahaadits Shahihah, Syaikh Al-Bany
3. Jami' ulumul wal hikam, Ibnu Rajab

Sikap tak pernah Puas


Secara awalnya hati manusia memang susah untuk merasa puas. Walaupun sudah
memiliki sepuluh peti emas, seseorang itu masih mau lagi kesebelas. Apabila
dia sudah mempunyai sebelas peti emas dia mau lagi yang kedua belas dan
begitulah seterusnya.

baikah sikap seperti ini? Dari aspek motivasi tidak salahnya sebab bersikap
maju, sikap yang diperlukan untuk menjadi kaya sebab Islam tidak pernah
menghalang umatnya menjadi kaya. dengan alasan dengan adanya harta yang
banyak memudahkan seseorang itu menyalurkan sebagian daripadanya ke
jalan-jalan kebaikan.

Jadi, dalam mengarungi kehidupan tidak salah seseorang itu bermewah-mewah
asalkan kemewahan tidak melupakan dia kepada Dipergunakan untuk tujuan
agama. Meskipun bersederhana itu lebih dituntut namun bermewah-mewah dalam
ruang lingkup yang dibenarkan berusaha sesuai dengan kehidupan sekarang.

Memang, kadang-kadang penilaian dan penghormatan manusia terhadap kita
bergantung kepada apa yang kita punya dan pangkat apa yang kita
sandang.mobil apa yang kita miliki, beberapa besar rumah apa yang kita
miliki, kawasan mana kita tinggal, keahlian apa yang kita ada dan yang
lainnya lagi.

Kehidupan kapitalisme dan materalisme sekarang telah meletakkan apa yang
kita miliki sebagai asas penghormatan manusia terhadap kita. Maka tidak
salahmemiliki segala-galanya asalkan kita tidak lupa diri, tidak berubah dan
masih meletakkan TUHAN sebagai Pemilik kehidupan.

Ujian paling berat bagi seorang yang kaya ialah jatuh miskin atau kehilangan
hartanya yang paling disayangi. Kala inilah kesabaran akan diuji. Kalau tadi
Islam membenarkan sikap tidak puas sebagai pendorong untuk manusia terus
berusaha, sekarang Islam melarang sikap tidak puas hati karena ditimpa
ujian. Sikap yang patut ditunjukkan ialah bersyukur kepada ALLAH karena
memberi peluang untuk memperbaiki diri. Setiap ujian tentunya beralasan.

Dalam menjalani dengan ujian baik kekurangan harta maupun yang melibatkan
kehidupan, tiada perkataan lain yang boleh diucapkan melainkan 'sabar' dan
'ridha'. Hanya dua perkataan ini bisa menyelamatkan seseorang daripada
dimurkai ALLAH. Dimurkai beraeti berdosa dan dosa kalau tidak dibasuhi
dengan taubat, jawabannya Neraka. Di antara tanda bersyukur ialah sentiasa
bersabar dan teguh iman menerima ujian ALLAH.

Sikap yang berlawanan dengan ini ialah sifat tamak untuk memiliki semuanya
hingga mengambil hak orang lain. Orang begini akan semakin kufur apabila
diberi nikmat, apalagi tatkala ditimpa musibah. Dia akan mudah menyalah
takdir dan menyalah TUHAN. Ingat janji ALLAH, "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti KAMI akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim,
7).

bandingkan dengan kita, barulah memiliki harta sedikit saja sudah merasakan
tidak berpijak di bumi ALLAH. Kadang-kadang hanya karena sebuah mobil yang
belumlah dikatakan sebagai 'mewah', kita sudah Terkagum menjadi diri kita.
ingatlah kekayaan allah menyangkut apa yang ada di bumi dan dilangit.

Senin, 22 Oktober 2007

Taubat Sejati


Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum, kulu ‘aamin wa antum bi khoirin.

Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh.

Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah merambah banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar.Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt.

Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah r.a. "Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka menukar agama karena sedikit keuntungan dunia."(HR. Muslim)

Saatnyalah seseorang merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah swt. Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan. Dan istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang musiman dan jarang-jarang. Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh.

Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan selama ini.
Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?” Rasulullah saw. menjawab, "Ya." (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah mengatakan, "Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu mencintainya."

Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba- Nya yang ingin kembali kepada-Nya.
Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari. "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."


Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.

Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif. Orang model ini selalu mengatakan, "Besok saya akan taubat." Ibnu Abas r.a. meriwayatkan, berkata Nabi saw."Binasalah orang-orang yang melambat-lambatkan taubat (musawwifuun)."

Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt. berfirman, "Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim."
Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., "Iblis berkata, aku hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam perbuatan durhaka. Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha illaahu dan istighfar. Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk."

Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki kembali maksiat. Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.

Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa. Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajiban nya terhadap Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lemak dan daging yang tumbuh di dalam dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan ibadah dan mujahadah.

Hanya Allahlah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan hak-hak orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami, dan hal-hal baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa beban.Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar.

Sumber : www.taushiyah- online.com

Rabu, 10 Oktober 2007

Tentang hari Raya



Hari Raya ialah semua hari yang didalamnya terdapat sekumpulan orang. Adapun kata al ‘Id merupakan pecahan kata dari : ‘aada ya’uudu, yang memiliki arti : “seakan-akan mereka kembali kepadanya”. Dan ada yang mengatakan, bahwa pecahan katanya dari : al ‘aadah, yang artinya : “karena mereka membiasakannya.” Dan bentuk jamaknya : a’yaad.
Dikatakan : ‘ayyadal muslimun, artinya : “mereka menghadiri hari raya mereka.”
Ibnu A’rabi berkata,”Dikatakan al-‘Id itu, ‘Id (hari raya) karena kegiatan itu berulang setiap tahunnya dengan kegembiraan yang baru.” (Lisanul ‘Arab 3/319)
Berkata ‘al Allamah Ibnu ‘Abidin, “Dinamakannya ‘Id (hari raya) itu, karena pada diri Allah Ta’ala memiliki berbagai macam kebaikan atau aneka ragam kebaikan yang kembali kepada hamba-hambaNya di setiap harinya. Diantaranya : berbuka setelah dicegah dari makan, sedekah/zakat fitrah, menyempurnakan ibadah haji dengan Thawaf, ziarah, daging sembelihan dan yang lainnya, karena kebiasaan yang ada didalamnya terdapat keceriaan dan kegembiraan serta semangat.

Sunnahnya mandi sebelum sholat Id
Dari Nafi' ia berkata : "Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari idul Fithri sebelum pergi ke mushalla tempat berkumpul manusia untuk sholat, di lapangan bila tidak hujan, red)" (Diriwayatkan Malik 1/177, Asy-Syafi'i 73 dan Abdurrazzaq 5754 dan sanadnya Shahih).
Imam Said Ibnul Musayyib berkata: “ Sunnah Idul Fithri itu ada tiga : berjalan kaki menuju ke mushalla, makan sebelum keluar ke mushalla dan mandi" (Diriwayatkan Al-Firyabi 127/1 dan 2, dengan isnad yang shahih, sebagaimana dalam 'Irwaul Ghalil' 2/104). Aku katakan : Mungkin yang beliau maksudkan adalah sunnahnya para sahabat, yakni jalan mereka dan petunjuk mereka, jika tidak, maka tidak ada sunnah yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal demikian.
Berkata Imam Ibnu Qudamah: "Disunnahkan untuk bersuci dengan mandi pada hari raya. Ibnu Umar biasa mandi pada hari Idul Fithri dan diriwayatkan yang demikian dari Ali Radhiyallahu 'anhu. Dengan inilah Alqamah berpendapat, juga Urwah, 'Atha', An-Nakha'i, Asy-Sya'bi, Qatadah, Abuz Zinad, Malik, Asy-Syafi'i dan Ibnul Mundzir" (Al-Mughni 2/370)
Adapun yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang mandi ini maka haditsnya dhaif (lemah) (Ini diriwayatkan dalam 'Sunan Ibnu Majah' 1315 dan dalam isnadnya ada rawi bernama Jubarah Ibnul Mughallas dan gurunya, keduanya merupakan rawi yang lemah. Diriwayatkan juga dalam 1316 dan dalam sanadnya ada rawi bernama Yusuf bin Khalid As-Samti, lebih dari satu orang ahli hadits yang menganggapnya dusta)

Berhias di Hari Raya
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhliallahu 'anhuma ia berkata : Umar mengambil sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang kepada Rasulullah dan berkata: "Ya Rasulullah, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya dan saat menerima utusan yang menghadap engkau. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak memiliki keimanan / pakaian orang-orang kafir'. Setelah itu Umar tidak menampakkan diri beberapa hari yang dikehendaki Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan kepadanya jubah sutera. Umar menerimanya lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia berkata : 'Ya Rasulullah, engkau pernah mengatakan : 'Ini adalah pakaiannya orang kafir dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Juallah jubah ini atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya". (Hadits Riwayat Bukhari 886,948,2104,2169, 3045, 5841,5891 dan 6081. Muslim 2068, Abu Daud 1076. An-Nasaa'i 3/196 dan 198. Ahmad 2/20,39 dan 49)
Berkata Al-Allamah As-Sindi: "Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini". (Hasyiyah As Sindi 'alan Nasa'i 3/181).
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa ia biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha".(Fathul Bari 2/439)
Beliau juga menyatakan: "Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum'at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera".(Fathul Bari 2/434).
Dalam 'Al-Mughni' (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan : "Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur".
Malik berkata: "Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya".
Berkata Ibnul Qayyim dalam "Zadul Ma'ad" (1/441): "Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah, namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.

Sunnahnya mengambil jalan lain sepulang dari Lapangan
Telah diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radliallahu'anhu, ia berkata: "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari lapangan-pen)" (Hadits Riwayat Bukhari 986).
Berkata Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah : "Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengambil jalan yang berbeda pada hari raya. Beliau pergi ke mushalla melewati satu jalan dan kembali dengan melewati jalan lain. Ada yang mengatakan bahwa hikmahnya adalah agar beliau dapat memberi salam kepada orang-orang yang berada di dua jalan itu. Ada yang mengatakan : Agar mendapatkan barakahnya dari beliau bagi kedua pengguna jalan yang berbeda. Dan dikatakan pula, agar beliau dapat memenuhi hajat orang yang butuh pada beliau di dua jalan itu. Ada pula yang mengatakan tujuannya agar dapat menampakkan syi'ar Islam .... Dan ada yang mengatakan -inilah yang paling benar- : Beliau melakukan perbuatan itu untuk semua tujuan tersebut dan hikmah-hikmah lain yang memang perbuatan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak kosong dari hikmah". (Zaadul Ma'ad 1/449).
Imam Nawawi rahimahullah setelah menyebutkan perkataan-perkataan di atas, beliau mengomentari : " Kalau pun tidak diketahui apa sebabnya beliau mengambil jalan yang berbeda, disunahkan untuk meneladaninya secara pasti, wallahu a'lam". (Raudlatut Thalibin 2/77)
Berkata Al-Baghawi dalam "Syarhus Sunnah" (4/302-303) : "Disunnahkan agar manusia berpagi-pagi (bersegera) ke mushalla (tanah lapang) setelah melaksanakan shalat shubuh untuk mengambil tempat duduk mereka dan mengumandangkan takbir. Sedangkan keluarnya imam adalah pada waktu akan ditunaikannya shalat".
At-Tirmidzi meriwayatkan (530) dan Ibnu Majah (161) dari Ali Radliallahu 'anhu bahwa ia berkata : "Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki". (Dihasankan oleh Syaikh kami Al-Albani dalam "Shahih Sunan Tirmidzi")

Shalat Id Tanpa Adzan dan Iqamah
Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'anhu ia berkata: “ Aku pernah shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dari sekali dua kali, tanpa dikumandangkan azan dan tanpa iqamah" (Riwayat Muslim 887, Abu Daud 1148 dan Tirmidzi 532).
Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu 'anhum berkata: “Tidak pernah dikumandangkan azan (untuk shalat Id -pent) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha" (Riwayat Muslim 887, Abu Daud 1148 dan Tirmidzi 532)
Berkata Ibnul Qayyim: "Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila tiba di mushalla (tanah lapang), beliau memulai shalat tanpa azan dan tanpa iqamah, dan tidak pula ucapan "Ash-Shalatu Jami'ah". Yang sunnah semua itu tidak dilakukan. (Zaadul Ma'ad 1/442)
Imam As-Shan'ani berkata dalam memberi komentar terhadap atsar-atsar dalam bab ini: "Ini merupakan dalil tidak disyariatkannya azan dan iqamah dalam shalat Id, karena (mengumandangkan) azan dan iqamah dalam shalat Id adalah bid'ah" (Zaadul Ma'ad 1/442)

Tuntunan dalam bertakbir disaat hari Raya
Allah Ta'ala berfirman: “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur".
Telah terdapat riwayat, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar pada hari raya Idhul Fithri, beliau bertakbir, ketika mendatangi mushalla sampai selesainya shalat, apabila shalat telah selesai, maka beliau menghentikan takbirnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf, al Muhamili dalam Shalatul ‘Idain)
Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani: "Dalam hadits ini ada dalil disyari'atkannya melakukan takbir dengan suara jahr (keras) di jalanan ketika menuju lapangan sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini sekedar menjadi berita.
Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang -pent) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.. Demikian pula setiap dzikir yang disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas satu suara seperti yang telah disebutkan . Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan tersebut (1), dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam".

Ibnu Umar dahulu apabila pergi keluar pada hari raya Idhul Fithri dan Idhul Adha, beliau mengeraskan ucapan takbirnya sampai ke mushalla, kemudian bertakbir sampai imam datang. (HR Ad Daraquthni dan Ibnu Abi Syaibah dan selain mereka dengan sanad yang shahih. Lihat Irwa ‘ul Ghalil 650).
Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih)
Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajallu Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.
(yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih)

Abdurrazzaq -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata : (yang artinya): “Agungkanlah Allah dengan mengucapkan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".
Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam "Fathul Bari (2/536) : "Pada masa ini telah diada-adakan suatu tambahan dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalnya".


Footnote :
(1). Yang lebih tragis lagi pelaksanaan takbir untuk hari raya Iedhul Fithri khususnya, sebagian kaum muslimin di negeri-negerinya melakukan dengan cara-cara yang jauh dari sunnah, seperti yang disebutkan di atas dan yang lebih fatal sebagian mereka mengadakan acara takbiran - menurut anggapan mereka - pada malam hari Lebaran sudah mengumandangkan kalimat takbir bahkan dengan cara-cara yang penuh dengan kemaksiatan musik, bercampurnya laki-laki dan wanita serta berjoget-joget dan kemungkaran lainnya - yang sudah dianggap bagian dari syiar Islam. Bahkan mereka menganggap hal itu sunnah dan kewajiban yang harus dilakukan dengan cara yang demikian. Laa haula walaa quwwata illa billah - pent.


(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)

Senin, 08 Oktober 2007

Sebab-sebab Naik-turunnya Iman dan Cara Meningkatkan Keimanan


CARA MENAIKKAN KADAR IMAN :

1. Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur'an dan
Hadits

a. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan renungkan maknanya

Ayat-ayat Al-Qur'an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan
masing-masing orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian
ayat Al-Qur'an mampu menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari
kemuliaan Allah, dilain pihak Al-Qur'an mampu membuat menangis seorang
pendosa, atau membuat tenang seorang pencari ketenangan.

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah
supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran."

(QS, Shaad 38:29)

"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang lalim selain kerugian."

(QS, al-Israa' 17:82)

b. Pelajarilah ilmu mengenai Asma'ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha Agung.

Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan
Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan
hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah.

Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha
Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari
akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang
diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal
ibadah).

Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha
Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang
karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar.

c. Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah SAW.

Dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan
menumbuhkan rasa cinta kita terhadapnya, kemudian berkembang menjadi
keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan
beliau selaku utusan Allah.

Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Wahai Rasul
Allah, kapan tibanya hari akhirat?". Rasulullah saw balik bertanya : "Apakah
yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?". Si sahabat
menjawab , "Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama
ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun di dalam hati, aku
sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah". Rasulullah saw menjawab, "Insya
Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai". (HR
Muslim) Inilah hadits yang sangat disukai para sahabat Rasulullah SAW.
Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga,
dan membaca riwayat hidupnya (siroh) adalah cara terpenting untuk lebih
mudah memahami dan mencintai Rasulullah SAW.

d. Mempelajari Jasa-jasa dan Kualitas Agama Islam

Perenungan terhadap syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkannya,
perintah dan larangannya, akan menimbulkan kekaguman terhadap kesempurnaan
ajaran agama Islam ini. Tidak ada agama lain yang memiliki aturan dan etiket
yang sedemikian rincinya seperti Islam, dimana untuk makan dan ke WC pun ada
adabnya, untuk aspek hukum dan ekonomi ada aturannya, bahkan untuk
berhubungan suami -istripun ada aturannya.

e. Mempelajari Kehidupan Orang-orang Sholeh (generasi Shalafus Sholihin,
para sahabat Rasulullah SAW, murid-murid para sahabat, tabi'in dan tabi'it
tabi'in)

Mereka adalah generasi-generasi terbaik dari Islam. Mereka adalah
orang-orang yang kadar keimanannya diibaratkan sebesar gunung Uhud sementara
manusia zaman kini diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu
dari gunung Uhud. Umar r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke
perutnya ketika tahu bahwa makanan yang diberikan padanya kurang halal
sumbernya. Sejarah lain menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi'in
meng-khatamkan Qur'an dalam satu kali sholatnya. Atau cerita tentang seorang
sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya berturut-turut tidak pernah sholat
wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid. Atau seorang sholeh yang menangis
karena lupa mengucap doa ketika masuk mesjid. Inilah cerita-cerita teladan
yang mampu menggetarkan hati seorang yang sedang meningkatkan keimanannnya.

2. Renungkanlah tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam (ma'rifatullah)

Singkirkan dulu kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam
ini diciptakan. Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan
alam yang sempurna ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi,
mulai dari tata surya, galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom.

Renungkan pula rahasia dan mukjizat Qur'an. Salah satu keajaiban Al Qur'an
adalah struktur matematis Al Qur'an. Walau wahyu Allah diturunkan bertahap
namun ketika seluruh wahyu lengkap maka ditemukan bahwa kata tunggal "hari"
disebut sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah
(masehi). Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari
dalam satu bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut
sebanyak 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa'ah
(jam) disebutkan sebanyak 24 kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan
semua kata-kata itu tersebar di 114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu
kata yang tersusun indah. Dan masih banyak lagi keajaiban dan mukjizat Al
Quran dari sisi pandang lainnya yang membuktikan bahwa itu bukan karya
manusia. Masih banyak pula mukjizat lainnya di alam ini yang membuktikan
bahwa alam ini memiliki struktur yang sangat sempurna dan tidak mungkin
tercipta dengan sendirinya. Adalah lumrah, bahwa sesuatu yang tidak mungkin
diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Besar.
Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah kekaguman dan cinta
serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.

3. Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas

Amal perbuatan perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap
melalui lidah kita dan kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas,
diperlukan usaha dan keseriusan untuk melakukan amalan-amalan ini.

a. Amalan Hati

Dilakukan melalui pembersihan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu
menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut
dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan
sebagainya.

b. Amalan Lidah

Perbanyak membaca Al-Qur'an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar,
mengirim salam dan sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang lain kepada
kebaikan, melarang kemungkaran.

c. Amalan Anggota Tubuh

Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah,
perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid
(khususnya bagi pria).

SEBAB-SEBAB TURUNNYA KADAR IMAN :

Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :

1. Kebodohan

Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk. Seseorang berbuat
jahat boleh jadi karena ia tak tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama, atau
ia tidak tahu ancaman dan bahaya yang akan dihadapinya kelak di akhirat,
atau ia tidak tahu keperkasaan Sang Maha Kuasa yang mengatur denyut
jantungnya, mengatur musibah dan rezekinya.

2. Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan

Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi
yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak
diberi tempat dipikirannya. Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada
Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah),
tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong
karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana.

Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu
telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi
(melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang
lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).

Melupakan kewajiban dan kepatuhan seseorang dalam beribadah berawal dari
sifat lalai atau lemah hatinya. Waktu dan energinya harus didorong agar
diisi lebih banyak dengan perbuatan amal sholeh, kalau tidak maka kesenangan
duniawi akan semakin menguasai dirinya hingga ia semakin jauh dari ingat
(dzikir) kepada Allah.

3. Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa

Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap)
perintah dan larangan Allah. Perbuatan dosa umumnya dilakukan secara
bertahap, misalnya dimulai dari zinah pandangan mata yang dianggap dosa
kecil kemudian berkembang menjadi zinah tubuh. Dosa-dosa kecil yang
disepelekan merupakan proses pendidikan jahat (pembiasaan) untuk
menyepelekan dosa-dosa besar. Karena itu basmilah dosa-dosa kecil selagi
belum tumbuh menjadi dosa besar.

4. Jiwa yang selalu memerintahkan berbuat jahat

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, Allah menggabungkan dua jiwa, yakni
jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka
saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah,
maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si
empunya jiwa meninggal dunia. Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa
jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, "..barang siapa yang
diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang
siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya
petunjuk". Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli
merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita
berkuasa. Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan
instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa
tenang) yang ada dalam tubuh kita.

Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :

1. Syaitan

Syaitan adalah musuh manusia. Tujuan syaitan adalah untuk merusak keimanan
orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat
Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan,
ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.

2. Bujukan dan rayuan dunia

Allah SWT berfirman : "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti
hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu
menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan
di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu". (QS, al-Hadiid 57:20).

Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang
kita lakukan, seperti mencari nafkah, menonton TV, bertemu teman dan
keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat. Tidak
secuilpun dari kegiatan duniawi boleh dilepaskan dari aturan main yang
diperintahkan atau dilarang Allah. Ibnul Qayyim mengibaratkan hati sebagai
suatu wadah bagi tujuan hidup manusia (akhirat dan duniawi) dengan kapasitas
(daya tampung) tertentu. Ketika tujuan duniawi tumbuh maka ia akan
mengurangi porsi tujuan akhirat. Ketika porsi tujuan akhirat bertambah maka
porsi tujuan duniawi berkurang. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai
hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah
awal dari menurunnya keimanan kita.

3. Pergaulan yang buruk

Rasulullah bersabda : "Seseorang itu terletak pada agama teman dekatnya,
sehingga masing-masing kamu sebaiknya melihat kepada siapa dia mengambil
teman dekatnya" (HR Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baghawi).

Seorang teman yang sholeh selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah,
karenanya ia selalu mengajak siapa saja orang disekitarnya untuk menuju
kepada kebaikan dan mengingatkan mereka bila mendekati kemungkaran. Teman
dan sahabat yang sholeh sangat penting kita miliki di zaman kini dimana
pergaulan manusia sudah sangat bebas dan tidak lagi memperhatikan
nilai-nilai agama Islam. Berada diantara teman-teman yang sholeh akan
membuat seorang wanita tidak merasa asing bila mengenakan jilbab. Demikian
pula seorang pria bisa merasa bersalah bila ia membicarakan aurat wanita
diantara orang-orang sholeh. Sebaliknya berada diantara orang-orang yang
tidak sholeh atau berperilaku buruk menjadikan kita dipandang aneh bila
berjilbab atau bahkan ketika hendak melakukan sholat.

Menaikkan kadar iman bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena begitu banyak
usaha (menuntut ilmu, amalan-amalan) yang harus kita lakukan disamping
godaan (syaitan, duniawi) yang akan kita hadapi. Paling tidak kita termasuk
orang-orang yang lebih beruntung dibanding orang lain yang belum sempat
mengetahui "sebab-sebab naik-turunnya iman" dalam tulisan ini. Mari kita
ingatkan teman-teman kita dengan menyebarkan tulisan ini.

"Wahai manusia! Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian,
maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban
dosamu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah
Swt bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab
orang-orang yang bersujud, tidak mengancam mereka dengan neraka pada hari
manusia berdiri di hadapan Rabbul'alamin. " (Petikan Khutbah Rasulullah)

Sumber :

1. Sebab-sebab Naik Turunnya Iman, oleh Syaikh Abdur Razzaaq al-Abbaad

2. Asma'ul Husna, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

3. Penawar Hati yang Sakit, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

1 jam tanpa dosa


Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang
melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"

Ayahnya menjawab sambil tersenyum : "tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" tanyanya lagi.

Ayahnya berkata: "tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"

Lagi-lagi ayahnya berkata : "Tak mungkin, nak."

"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu
bertanya lagi.
Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab: "mm.....
mungkin bisa, nak."

"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat
untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"

Ayahnya tertawa dan berkata : "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."

Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata : "Kalau begitu ayah, aku mau
memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen,
supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih
mudah dijalani, ya?"

memaknai hidup


Berbincang dengan seorang sahabat, dan dia berkata kenapa yah saya tidak
bisa menikmati hidup, walau saya memiliki semua yang saya miliki. Hal ini
menurut saya banyak ditanyakan beberapa sahabat.

Banyak orang yang menjalani hidup ini dengan tidak mengerti makna dari hidup
mereka. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak,
dan akhirnya meninggal dalam keadaan hanya pasrah dalam menjalankan
kehidupan dengan kosong.

Sebagaimana kita memandangi hidup, demikianlah kehidupan kita. Hidup menjadi
berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna
kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti,
maka hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

Hal terbesar di dunia ini bukanlah dimana Anda berdiri, melainkan kemana
Anda akan pergi." Itu artinya, jika Anda mampu menetapkan,memahami dan
memperjelas tujuan hidup, maka kemungkinan untuk memaknai hidup lebih besar.

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar dalam menjalankan
kehidupan. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah
sebenarnya adalah ''rahmat terselubung' ' karena dapat membuat kita bangun
dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan
kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk
memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu
tiba-tiba saja meninggal. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya
hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa
bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Dalam mencoba mengisi dan menyadari arti kehidupan menyadari, yaitu siapa
diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu
kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan
kontemplasi. Dan sedikit perenungan akan membuat kita mengerti akan makna
dari kehidupan. Ingat kehidupan berjalan tidak hanya mengejar keinginan
mimpi duniawi.

Terkadang kita melupakan keberadaan orang terdekat, kita melupakan afeksi
atau kasih sayang dari orang-orang terdekat yang membuat kita berarti,
pengakuan keberadaan kita juga membuat kita bisa menikmati hidup. Disayangi
orang tua, keluarga, anak, sahabat memberi kita kesempatan kita berarti dan
menikmati kehidupan. Bayangkan ketika kehidupan kita hanya mengejar harta,
mimpi, dan sukes dan kita mengabaikan keberadaan orang terdekat oleh kita,
ketika mimpi, dan kesuksesan telah tercapai kita hanya menikmati sesaat, dan
setelah itu kita akan kembali kosong.

Buat apa terlalu sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan, dengan menyalahgunakan
jabatan kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda
sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal,
jiwa inilah milik kita yang abadi.

Sering terpikirkan terkadang dalam kehidupan ini kita hanya mengejar
kesenangan ragawi, kita kurang memperhatikan kesukesan jiwa, dan hati kita,
maka banyak kita lihat saat ini orang yang memiliki kekosongan hati, dan
dengan hati yang kosong akan mudah kita depresi, stress dan lainya. Karena
tidak seimbangnya kebutuhan ragawawi dan kebutuhan jiwa.

Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan
semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan
semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk
mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat
mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum
sepenuhnya tersadar.

Jadi saya hanya mengharap dan mengingatkan kepada para sahabat, mari kita
jalani hidup dengan keseimbangan, mari kita nikmati hidup, mencapai sukses
dalam kehidupan tanpa melupakan sukses setelah kita meninggalkan dunia juga
harus dipikirkan.

" menikmati hidup tidak hanya dengan harta dan kekuasaan, menikmati hidup
dengan hati yang tulus lebih berarti "

Dalam Perenungan, memaknai kehidupan
Depok, 7 Augustus 2007 20:30
Erwin Arianto

Jumat, 05 Oktober 2007

Agama Dan Kehidupan Bernegara


Hanya sedikit memperhatikan sikap dan sifat dari para pejabat, Artis dan Masyarakat indonesia, mengapa ya, bangsa indonesia sebagai bangsa besar yang beragama, tetapi memilki korupsi dan tindakan yang kurang terpuiji.

Dimana letak norma-norma aturan aturan agama yang hampir seluruh agama tidak ada yang mengajarkan tentang keburukan, dari agama islam, Kristen, budha, hindu semua mengarahkan untuk kehidupan yang lebih baik di dunia dan di akhirat.

Agama melarang kita untuk mencuri, tetapi yang terjadi saat ini hampir sebagian besar pejabat banyak yang menjadi pencuri, dari korupsi, manipulasi, mark up harga, pemotongan hak rakyat, uang admistrasi siluman dan lainya.

Agama melarang untuk memamerkan bentuk tubuh, berpakaian transparan, tapi ketika dibentuk UU anti pornografi, banyak yang protes, melanggar hak asasi manusia, feminisme dan lain-lainya.

Apakah agama saat ini dipisahkan dari kehidupan dunia, sering saya tersenyum dalam kekecewaan, seorang sahabat berkata, “ Maksiat jalan terus, tetapi sholat tidak ketinggalan” Astagfirullah…, orang seperti ini yang merusak agama, merusak ahlak mereka sendiri. Inilah sedikit gambaran tentang orang yang mengaku beragama tetapi tetap menjalankan kemaksiatan.

Apakah agama dalam negara ini hanya sebuah seremonial belaka, coba lihar saat perayaan maulid nabi, idul adha, idul fitri, natal, nyepi, waisak, seluruh pejabat, artis, masyarakat semua berduyun-duyun menghadirinya, dalam hati kecil yang nakal bertanya apakah tujuan mereka merayakan, apakah hanya sebatas seremoni, mencari populaitas, sebagai pemimpin bangsa, atau mereka benar-benar menghayati arti dari perayaan agama tersebut. Hanya berharap dan berdoa semoga mereka menyadari makna perayaan agama tersebut dan semakin menjadikan masyarakat Indonesia lebih beragama.

Lucu melihat sikap para pejabat, ketika mereka kampanye mereka menjual agama untuk program perbaikan kehidupan rakyat, tetapi ketika mereka menjabat, dan mereka di dakwa korupsi, menggunakan uang rakyat, kemana dulu idealis mereka, dimana yang katanya atas nama agama.

Dan saya pun tertawa melihat kisah artis atau orang yang sok artis ketika hari biasa mereka menggunakan pakaian yang seronok dan serba terbuka, ketika satu momen bulan ramadhan mereka bertransformasi menutup diri semua, apakah hanya untuk laku di tayangkan di televisi….

Hanya bertanya dimanakah posisi agama pada masyarakat negara ini, mengapa agama tidak dijadikan petunjuk untuk menjalan kan hidup, kadang saya melihat masyarakat, hanya menjadikan agama sebagai setatus di KTP, karena mereka menjalankan agama sesuai kehendak hati, saat ada suatu perintah yang enak meraka melakukan, dan perintah yang susah dan tidak enak mereka tidak akan mengerjakan. Seperti saat ada sunah laki-laki boleh beristri lebih dari 2, hampir banyak laki-laki yang melakukannya.

Dan yang membingungkan, saat polri, FPI, dan unsure masyarakat lain yang beramai-ramai menutup tempat hiburan malam, apakah hanya saat bulan puasa hiburan malam, yang identik dengan pelacuran, miras, judi dan penyakit masyarakat lainya di tutup, dimana aparat keamanan saat hari biasa, dimana peraturan yang melarang hiburan malam saat hari biasa. Sebuah kebijakan yang bias dan mengelitik.

Hanya berharap dengan menyatukan agama dan kehidupan maka bangsa ini insya allah menjadi lebih baik, agama sebagai alat kontrol diri, dimana pejabat, artis, dan masyarakat pada umumnya ketika ingin berbuat kejahatan ingant dan mengurungkan niatnya karena agama dan tuhan melarangnya. Semoga!!

“ Maka masuklah ke dalam agama secara kesuluruhan”


Dalam perenunganku, Bertanya Kenapa agama dipisahkan dalam kehidupan
Cikarang, 05 oktober 2007 13:17
Erwin Arianto
Http://blogerwinarianto.blogspot.com

Jumat, 28 September 2007

Zuhhud Yuk!!


“hai manusia, bertaqwalah kepada tuhamu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan Kamu, dan jangan (pul) penipu (syitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah” (QS. Luqman(31):33))

Saat ini masih adaka hpejuang dakwah yang tetap berselimut kezuhutan meski memikul sebuah jabatan. Seringkali mereka merasa dunia jabatan bukan habitatnya.

Yang paling mungkin untuk memiliki sifat zuhud adalah orang yang mampu secara ekonomi alias kaya, sehingga mereka bisa terhindar dari sifat tamak dan kikir akan harta. Karena tidaklah dikatakan Zuhud orang yang tidak mengambil apa yang tidak dibutuhkan. Baru dikatakan zuhud jika dia mempu menahan diri menguasai sesuatu yang diinginkannya yang dititipkan padanya.

Sementara orang –orang yang kurang mampu hendaknya menghias diri dengan sifat Qona’ah sehingga terhindar dari sifat hina, meminta-minta dangen memaksa. karena dengan sifat qona’ah mereka merasa cukup dengan apa yang diperoleh walaupun kekurangan.

Secara hokum tidak ada yang melarang membangun rumah bagus dengan biaya mahal, tetatpi jika rumah bagus itu dibangun ditengah-tengah perumahan kumuh, yang beratapkan seng bekas dan berdinding bilik.

Sifat zuhud akan menumbuhkan sensitiviatas terhadap kondisi umat. Ketika zuhud direalusasikan, maka akan ada 2 faedah besar yang akan di perolehnya. Yakni kecintaan kepada Allah dan Kecintaan kepada manusia, sebagimana sabda nabi SAW ketika ditanya seorang sahabat. “Ya Rasulallah, beritahukan padaku amalan yang jika mengerjakannya aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia, maka Rasulallah menjawab :
“Zuhudlah engkau di dunia niscaya akan dicintai Allah, dan zuhudlah terhdap apa-apa yang ada pada manusia, niscaya kamu akan dicintai manusia” (HR Ibnu Majah)

Pada kesempatan ramadhan adalah kesempatan untuk melatih jadi zuhhud, dimana dikala siang hari kita meninggalkan yang haram, dan sebaiknya pada malam hari meninggalkan sifat yang berlebihan dari yang halal.

Maka seorang muslim yang berhasil menjalankan ramadhan dengan kesungguhan dan kesuksesaan, daia kan keluar dan berjalan sebagai orang yag zuhud. Semoga sahabat semua menjadi seorang yang zuhud pada ramadhan nan fitir dan berlanjut di luar bulan ramadhon

Wassalamualaikum Wr Wb
Erwin Arianto

Senin, 24 September 2007

Sabar


Manusia diciptakan Allah dengan tiga elemen dasar yaitu, air, tanah dan udara. Air dan tanah merupakan materi yang dibentuk (nafs), sedangkan udara adalah identitas yang mengaku atau yang disebut dengan min ruhi, dan kesempurnaannya disebut diriku sebagai khalifah fil ardhi. Diri dan Aku berbeda, Diri berarti syariat yang mewakili yang tampak, sedangkan Aku adalah hakikat mewakili identitas yang tersembunyi.Berbicara sabar harus berada diluar itu semua, karena sabar merupakan suatu hal atau keadaan atau suasana-suasana kenyamanan yang dialirkan Sang Mahaluas kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa "sabar orang itu ada batasnya", maka jawabnya adalah benar "susunan katanya" dan benar "menurut yang membenarkan". Sedangkan menurut saya berbeda, manusia tidak memiliki sabar, dan yang memiliki-Nya hanya Allah Swt., kita orang cuma bisa menggunakan saja, itupun kalau dikasih, kalau enggak gimana?

Saya pahami kalimat "sabar orang itu ada batasnya" adalah sebagai batas kemampuan seseorang dalam berdaya dan berupaya untuk menyelesaikan permasalahan sudah metok, habis, segala yang diketahui tak lagi mampu menjawab, semua solusi mandul, semua jalan sudah tertutup dan tak ada lagi jalan keluarnya, jelasnya orang tersebut tidak lagi mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya atau habis dan sirna ketangguhannya.

Maka akibatnya bisa jadi strees, bisa marah-marah (keluar semuanya perilaku buruknya karena tidak terkontrol) yang enggak karuan juntrungnya, dan bisa-bisa juga jadi gila dibuatnya, "may be yes may be no" karena takut resiko dalam menghadapi permasalahan itu yang mau-tak-mau harus dilalui dalam episode hidupnya.

Sebenarnya kondisi diatas pangkalnya cuma tidak mau menerima doang, atau mungkin egonya mau benar melulu, sehingga tidak lagi bisa menerima label salah dari orang lain pada dirinya atas keputusan jalan yang dia ditempuh.

Hakekatnya jalan cuma dijalani, diikuti petunjuknya, lebih dan kurangnya menurut persepsi kita terima saja, supaya tidak terasa sakit hati dan kecewa, kemudian hadapi, lalu lewati lautan hidup yang sangat luas ini dengan bahagia.

Jadi bagiamana dong kita bisa menjadi sabar, jawabnya mudah saja "mintalah disabarkan kepada Sang Pemilik sabar" INI dengan lurus, dengan kesungguhan, tadarru, dan jangan berhenti sebelum diberi (kontinyu). Seperti: Ya Allah... berikan kepadaku kesabaran, dan jadikanlah aku orang-orang sabar.

Maka jika Allah berkehendak dan mengijabah doa hamba-Nya, dengan sekali ucap "Kun" jadi, maka jadilah "Fayakun", tiba-tiba saja dada ini, hati ini, menjadi luas dan tak terbatas, maka apapun yang menyapa diri ini, kehidupan ini, tak lagi menjadi permasalahan, semuanya seperti angin yang berhembus dengan bebas, semuanya seperti lewat saja, lalu pergi entah kemana.

Jadi memaknai sabar, berarti Allah berikan kekuatan kepada hamba-Nya dalam melewati suasana kehidupan (derita atau bahagia) dengan tenang dan keluasan hati untuk menerima dan mengarungi kehidupan yang dilaluinya,"Wasbir wama shabruka illa billah.., sabarlah kalian, tetapi kalian tidak akan bisa sabar kecuali dengan kekuatanKU" (An-Nahl:127)

Wanita Sholeh


Dunia itu perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah.” (HR. Muslim)
Anas Ra juga menuturkan, Rasulullah Saw, pernah bersabda:
“Siapa saja yang telah dikaruniai Allah wanita salehah berarti dia telah menolongnya dalam satu bagian agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam bagian yang kedua”. (HR al-Hakim)

Berikut adalah ciri-ciri wanita sholehah yang diibaratkan sebaga Pohom pemalu :
Pohon pemalu akan kuncup apabila disentuh, ini boleh diibaratkan bahwa wanita perlu mempunyai perasaan malu (pada tempatnya)

Pohon pemalu mempunyai duri yang tajam untuk mempertahankan dirinya. oleh karena itu wanita perlu tahu mempertahankan diri dan maruah sebagai wanita muslim.

Pohon pemalu juga mempunyai akar tunjang yang amat kuat dan mencengkeram bumi , ini bermakna bahwa wanita sholihah hendaknya mempunyai keterikatan kuat dgn RabbNya.

Pohon pemalu akan kuncup dengan sendirinya apabila senja menjelang. Oleh itu wanita sekalian , kembalilah kerumahmu apabila waktu semakin senja. Ambillah pelajaran dari pohon pemalu walaupun ia hanya sepohon tumbuhan yang kecil

Kamis, 20 September 2007

Lelaki yang Dimandikan Malaikat

Lelaki yang Dimandikan Malaikat

Malam sebentar lagi akan beranjak dari tahtanya; kembali ke alamnya yang tak kelihatan ranah tepinya untuk digantikan tugasnya oleh pagi. Dan mentari pagi, semburat cahayanya sebentar lagi akan muncul. Shubuh, masih tinggal beberapa waktu lagi.

Hanzhalah, demikian nama lelaki itu. Belum juga sehari dia menggenapkan dien-nya. Namun, ketika gema jihad diteriakkan menjelang shubuh itu, ia pun langsung beranjak dari peraduannya.


Di medan Perang Uhud, yang diikuti oleh lelaki itu, ia berperang dengan gesit. Pedangnya bergerak leluasa mencari sasaran yang tepat. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.


Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup untuk melaksanakan makarnya itu. Kemudian dengan tipu dayanya ia memanggil salah seorang anak buahnya, Syadad bin A-Aswad mendekat kemudian menghantamkan pedangnya ke tubuh Hanzhalah.


Akhirnya, Hanzhalah pun wafat, menyusul para syuhada lainnya di Perang Uhud. "Hanzhalah dibayar dengan nyawa Hanzhalah, " begitu desis Abu Sufyan bergembira kara api dendamnya untuk membayar nyawa anaknya, Hanzhalah, yang dibunuh oleh Handzalah itu di Perang Badar telah terpenuhi.


Setelah selesai pertempuran, para sahabat pun mencari teman-temannya. Tapi ada yang aneh di situ. Mayat Hanzhalah malah meneteskan air bening. Seluruh tubuhnya dalam keadaan basah seperti habis dimandikan, padahal di dekatnya tidak setetes pun air mereka jumpai. "Sesungguhnya, sahabatmu ini barusan dimandikan malaikat, " kata Rasulullah. Dalam riwayat lain dikatakan, "Saya melihat para malaikat memandikannya dalam bejana yang terbuat dari perak, dengan air mendung yang menggantung antara langit dan bumi."


Para sahabat pun penasaran. Mereka ingin tahu, apa rahasia lelaki putera Abu Amir yang masih dalam kejahiliyahan itu. Bukankah seorang syahid tidak perlu dimandikan? Bukankah di situ ada sahabat lain yang lebih masyhur? Kenapa hanya Hanzhalah?


Akhirnya, kemudian diutuslah seseorang menemui istrinya dan menanyakan perihal suaminya.


"Saya memang telah mendengar perihal suami saya, " katanya. "Ketika dia keluar ke medan perang, dia habis menggauliku. Dia keluar masih dalam keadaan junub saat seruan jihad itu terdengar." [1]


Dengan demikian, saat syahid menjemputnya, para malaikat pun memandikannya karena belum sempatnya ia menunaikan mandi janabat saat gema jihad dikumandangkan.



Dikutip dari Yas'alunaka Fiddiini wal Hayaah yang diterjemahkan menjadi "Dialog Islam" karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi (dosen Universitas Al-Azhar, Cairo), Penerbit Zikir, Surabaya, 1997, cetakan pertama

Rabu, 19 September 2007

Kaulah pemilik hidup ku


Menatap dengan tatapan hampa
Melihat dan mencari sebuah asa
Mencoba berbicara dengan jiwa
Tentang hidup dan derita

Tuhan ku yang baik hati
Kau beri aku anugrah sangat berarti
Hamba sering mengeluh tanpa menyukuri
Semua seakan tak berarti

Kau beri aku hidup
Kau beri aku karunia
Kau beri aku tanpa ku minta
Kau beri semua sampai tak terhingga

Tuhan
Hamba sering berteriak
Menyanggah dan berontak
Menganggap semua ini hanya riak

Tuhan
Maafkan kesalan diri ini
Terimakasih atas musibah ini
Menyadarkan diri ini

Tuhan
Dalam lupa ku
Kau tetap menyayangku
Kaulah pemilik hidup ku

Tuhan
Aku tersadar
Aku telah jauh melanggar
Semua yang telah kau qadar

Tuhan
Bimbinglah hamba ini
Menjadi insan yang selalu menykuri
Semua rahmat dan karunia mu
Tuhan terimalah sembah sujudku
Sabagai tanda taqwaku kepada mu

Dalam perenunganku, bersyukur atas musibah ini… dan bersyukur karena telah kembali pulih
Depok, 17/9/2007 21:36 WIB
Erwin Arianto
Pindah alamat di http://blogerwinarianto.blogspot.com


Selasa, 18 September 2007

tata cara mandi besar.


tata cara mandi besar.

Ada beberapa riwayat/cara untuk melakukan mandi junub ini.
1. Riwayat Aisyah r.a
“Aisyah r.a. berkata: Sesungguhnya Rasululloh SAW apabila mandi janabat (mandi besar), memulai dengan membasuh kedua tangannya, lalu membasuh kemaluannya dengan tangan kiri, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu menggosok-gosok kulit kepalanya hingga basah, kemudian mencucurkan air tiga kali pada kepalanya, lalu ke seluruh tubuhnya.” (H.R. Bukhari-Muslim)

2. Riwayat Maimunah r.a., isinya hampir serupa dengan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Perbedaannya adalah MENGGOSOK-GOSOKKAN TANGANNYA KE TANAH. Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut,Maimunah berkata, “Aku pernah meletakkan (dalam satu riwayat lain : menuangkan) air untuk Rasulullah untuk dipakai mandi [janabah, 1/ 68] [dan aku menutupnya]. Beliau lalu membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air [dengan tangan kanannya] atas tangan kirinya, lalu beliau membasuh kemaluan: dan apa-apa yang ada di sekitarnya yang terkena kotoran. Beliau lalu menggosok-gosokkan tangannya dengan tanah (dan dalam satu riwayat: menggosokkannya ke dinding, 1/70; dalam riwayat lain: dengan tangan atau dinding, 1/71 dan 72) [sebanyak dua atau tiga kali] [kemudian mencucinya], lalu berkumur-kumur, mencuci hidungnya dengan air, membasuh wajah dan kedua tangannya [dan membasuh kepalanya tiga kali 1/71], (dalam satu riwayat: berwudhu seperti wudhunya untuk shalat, hanya saja tidak membasuh kakinya, 1/68), kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, lalu bergerak dari tempatnya dan mencuci kedua kakinya, [kemudian dibawakan sapu tangan kepada beliau, tetapi beliau tidak menggunakannya untuk mengusap tubuhnya (dalam satu riwayat: lalu aku bawakan penyeka/handuk, tapi beliau memberi tanda begini, yang maksudnya beliau tidak memerlukannya), (dalam riwayat lain: lalu aku bawakan kain, tetapi tidak beliau ambil, beliau malah mengibaskan {sisa-sisa air di tubuhnya} dengan kedua tangannya.)].”

Hadits di atas diambil dari Shahih Bukhari di kitab mandi.

Jadi, secara garis besar, berdasar kedua riwayat di atas, urutan mandi besar adalah:
1. Membasuh kedua tangan,
2. Membasuh kemaluan dengan tangan kiri (tangan kanan mengguyur air ke bagian kemaluan),
3. (Optional) Menggosok-gosokkan tangannya ke tanah,
4. Berwudhu seperti biasa,
5. Membasuh kepala (hingga basah merata di kepala), dan
6. Membasuh seluruh badan.

Untuk perempuan yang berambut panjang dan ikal/lebat, poin (5) akan dirasa menyulitkan karena akan membuat rambut mereka susah kering. Bahkan untuk beberapa perempuan, rambut yg basah akan membuat mereka sakit kepala. Lantas bagaimana solusinya? Ternyata Rasululloh SAW memberi keringanan, dengan cara mengikat rambutnya lalu mencucurkan air di atas kepalanya tiga kali, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut, “Kata Ummi Salam r.a., saya pernah bertanya kepada Rasululloh SAW: “Ya Rasululloh, saya wanita yang berambut panjang dan lebat, apakah saya harus membuka ikatan rambut saya? Nabi SAW menjawab: “Tidak perlu, cucurkan tiga gayung air pada kepalamu, itu sudah cukup.” (H.R. Muslim)

Lalu, siapa yg mesti saya ikuti? Aisyah r.a atau Maimunah r.a? Tidak perlu saling menyalahkan, ikuti saja salah satu, yang membuat anda mantap. Insya ALLOH keduanya benar, karena didasari hadits yg shahih.

Semoga artikel ini bermanfaat.

sumber :http://tausyiah275.blogsome.com

Beberapa Cara Shalat Malam yang dikerjakan Rasulullah shallallahu `alaihi wa allam


(Dikutip dari tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, judul asli Sholatut Tarawih, edisi Indonesia Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat.)

Beberapa Cara Shalat Malam yang dikerjakan Rasulullah shallallahu `alaihi wa allam

Dari hadits-hadits dan riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam dan witir lengkap berbagai cara:

Pertama.
Shalat 13 rakaat dan dimulai dengan 2 rakaat yang ringan.
Berkenaan dengan ini ada beberapa riwayat:
a. Hadits Zaid bin Khalid al-Juhani bahwasanya berkata: “Aku perhatikan shalat malam Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan kemudian ia shalat dua rakaat yang panjang sekali. Kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat, yang demikian adalah tiga belas rakaat.” (Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr)

b. Hadits Ibnu Abbas, ia berkata: “Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. Kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku seakan-akan beliau memegang telingaku, seakan-akan membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat yang ringan. Beliau membaca Ummul Qur’an pada kedua rakaat itu, kemudian beliau memberi salam kemudian beliau shalat hingga sebelas rakaat dengan witir, kemudian tidur. Bilal datang dan berkata: Shalat Ya Rasulullah! Maka beliau bangun dan shalat dua rakaat, kemudian shalat mengimami orang-orang. (HR. Abu Dawud dan Abu `Awanah dalam kitab Shahihnya. Dan asalnya di Shahihain)

Ibnul Qayim juga menyebutkan hadits ini di Zadul Ma`ad 1:121 tetapi Ibnu Abbas tidak menyebut bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan sebagaimana yang disebutkan Aisyah.

c. Hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam apabila bangun malam, memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan, kemudian shalat delapan kemudian berwitir. Pada lafadh lain: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat Isya, kemudian menambah dengan dua rakaat, aku telah siapkan siwak dan air wudhunya dan berwudlu kemudian shalat dua rakaat, kemudian bangkit dan shalat delapan rakaat, beliau menyamakan bacaan antara rakaat-rakaat itu, kemudian berwitir pada rakaat yang ke sembilan. Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sudah berusia lanjut dan gemuk, beliau jadikan yang delapan rakaat itu menjadi enam rakaat kemudian ia berwitir pada rakaat yang ketujuh, kemudian beliau shalat dua rakaat dengan duduk, beliau membaca pada dua rakaat itu “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Idza zulzilat.”

Penjelasan.
Dikeluarkan oleh Thahawi 1/156 dengan dua sanad yang shahih. Bagian pertama dari lafadh yang pertama juga dikeluarkan oleh Muslim 11/184; Abu Awanah 1/304, semuanya diriwayatkan melalui jalan Hasan Al-Bashri dengan mu`an`an, tetapi Nasai meriwayatkannya (1:250) dan juga Ahmad V:168 dengan tahdits. Lafadh kedua ini menurut Thahawi jelas menunjukan bahwa jumlah rakaatnya 13, ini menunjukan bahwa perkataannya di lafadh yang pertama: “kemudian ia berwitir” maksudnya tiga rakaat. Memahami seperti ini gunanya agar tidak timbul perbedaan jumlah rakaat antara riwayat Ibnu Abbas dan Aisyah.

Kalau kita perhatikan lafadh kedua, maka di sana Aisyah menyebutkan dua rakaat yang ringan setelah shalat Isya’nya, tetapi tidak menyebutkan adanya shalat ba’diyah Isya. Ini mendukung kesimpulan penulis pada uraian terdahulu bahwa dua rakaat yang ringan itu adalah sunnah ba`diyah Isya.

Kedua
Shalat 13 rakaat, yaitu 8 rakaat (memberi salam setiap dua rakaat) ditambah lima rakaat witir, yang tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir (kelima).

Tentang ini ada riwayat dari Aisyah sebagai berikut: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidur, ketika bangun beliau bersiwak kemudian berwudhu, kemudian shalat delapan rakat, duduk setiap dua rakaat dan memberi salam, kemudian berwitir dengan lima rakaat, tidak duduk kecuali ada rakaat kelima, dan tidak memberi salam kecuali pada rakaat yang kelima. Maka ketika muadzin beradzan, beliau bangkit dan shalat dua rakaat yang ringan.

Penjelasan :
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad II:123, 130, sanadnya shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim. Dikeluarkan juga oleh Muslim II:166; Abu Awanah II:325, Abu Daud 1:210; Tirmidzi II:321 dan beliau mengesahkannya. Juga oleh Ad-Daarimi 1:371, Ibnu Nashr pada halaman 120-121; Baihaqi III:27; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla III:42-43.

Semua mereka ini meriwayatkan dengan singkat, tidak disebut padanya tentang memberi salam pada tiap dua rakaat, sedangkan Syafi’i 1:1/109, At-Thayalisi 1:120 dan Hakim 1:305 hanya meriwayatkan tentang witir lima rakaat saja.

Hadits ini juga mempunyai syahid dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1:214 daan Baihaqi III:29, sanad keduanya shahih. Kalau kita lihat sepintas lalu, seakan-akan riwayat Ahmad ini bertentangan dengan riwayat Aisyah yang membatas bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat, sebab pada riwayat ini jumlah yang dikerjakan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam adalah 13 rakaat ditambah 2 rakaat qabliyah Shubuh. Tetapi sebenarnya kedua riwayat ini tidak bertentangan dan dapat dijama’ seperti pad uraian yang lalu. Kesimpulannya dari 13 rakaat itu, masuk di dalamnya 2 rakaat Iftitah atau 2 rakaat ba’diyah Isya.

Ketiga.
Shalat 11 rakaat, dengan salam setiap dua rakaat dan berwitir 1 rakaat.

Dasarnya hadits Aisyah berikut ini: “Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat pada waktu antara selesai shalat Isya, biasa juga orang menamakan shalat `atamah hingga waktu fajar, sebanyak 11 rakaat, beliau memberi salam setiap dua rakaat dan berwitir satu rakaat, beliau berhenti pada waktu sujudnya selama seseorang membaca 50 ayat sebelum mengangkat kepalanya”.

Penjelasan:
Diriwayatkan oleh Muslim II:155 dan Abu Awanah II:326; Abu Dawud I:209; Thahawi I:167; Ahmad II:215, 248. Abu Awanah dan Muslim juga meriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, sedangkan Abu Awanah juga dari Ibnu Abbas.

Mendukung riwayat ini adalah Ibnu Umar juga: Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tentang shalat malam, maka sabdanya: Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Kalau seseorang daripada kamu khawatir masuk waktu Shubuh, cukup dia shalat satu rakaat guna menggajilkan jumlah rakaat yang ia telah kerjakan.

Riwayat Malik I:144, Abu Awanah II:330-331, Bukhari II:382,385, MuslimII:172. Ia menambahkan (Abu Awanah): “Maka Ibnu Umar ditanya: Apa yang dimaksud dua rakaat - dua rakaat itu? Ia menjawab: Bahwasanya memberi salam di tiap dua rakaat.”

Keempat.
Shalat 11 rakaat yaitu sholat 4 rakaat dengan 1 salam, empat rakaat salam lagi, kemudian tiga rakaat.

Haditsnya adalah riwayat Bukhari Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Menurut dhahir haditsnya, beliau duduk di tiap-tiap dua rakaat tetapi tidak memberi salam, demikianlah penafsiran Imam Nawawi. Yang seperti ini telah diriwayatkan dalam beberapa hadits dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak memberi salam antara dua rakaat dan witir, namun riwayat-riwayat itu lemah, demikianlah yang disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Nashr, Baihaqi dan Nawawi.

Kelima
Shalat 11 rakaat dengan perincian 8 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan tersebut, maka beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, selanjutnya beliau witir satu rakaat, kemudian memberi salam (maka genap 9 raka’at). Kemudian Nabi sholat 2 raka’at sambil duduk.

Dasarnya adalah hadits Aisyah radliallahu `anha, diriwayatkan oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir. Bahwasanya ia mendatangi Ibnu Abbas dan menanyakan kepadanya tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam maka Ibnu Abbas berkata: Maukah aku tunjukan kepada kamu orang yang paling mengetahui dari seluruh penduduk bumi tentang witirnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Ia bertanya siapa dia? Ia berkata: Aisyah radlillahu anha, maka datangilah ia dan Tanya kepadanya: Maka aku pergi kepadnya, ia berkata: Aku bertanya; Hai Ummul mukminin khabarkan kepadaku tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, Ia menjawab: Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudlunya, maka ia bersiwak dan berwudlu dan shalat sembilan rakaat tidak duduk padanya kecuali pada rakaat yang kedelapan, maka ia mengingat Allah dan memuji-Nya dan bershalawat kepada nabi-Nya dan berdoa, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, kemudian berdiri dan shalat (rakaat) yang kesembilan, kemudian beliau duduk dan mengingat Allah dan memujinya (at tahiyat) dan bershalawat atas nabi-Nya shallallahu `alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian memberi salam dengan salam yang diperdengarkan kepada kami, kemudian shalat dua rakat setelah beliau memberi salam, dan beliau dalam keadaan duduk, maka yang demikian jumlahnya sebelas. Wahai anakku, maka ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menjadi gemuk, beliau berwitir tujuh rakaat, beliau mengerjakan di dua rakaat sebagaimana yang beliau kerjakan (dengan duduk). Yang demikian jumlahnya sembilan rakaat wahai anakku.

Penjelasan
Diriwayatkan oleh Muslim II:169-170, Abu Awanah II:321-325, Abu Dawud I:210-211, Nasai I/244-250, Ibnu Nashr halaman 49, Baihaqi III:30 dan Ahmad VI:53,54,168.

Keenam.
Shalat 9 rakaat, dari jumlah ini, 6 rakaat beliau kerjakan tanpa duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat yang keenam tersebut, beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi shallallahu `alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit dan tidak memberi salam sedangkan beliau dalam keadaan duduk.

Yang menjadi dasar adalah hadits Aisyah radiyallahu anha seperti telah disebutkan pada cara yang kelima.

Itulah cara-cara shalat malam dan witir yng pernah dikerjakan Rasulullah, cara yang lain dari itu bisa juga ditambahkan yang penting tidak melebihi sebelas rakaat. Adapun kurang dari jumlah itu tidak dianggap menyalahi karena yang demikian memang dibolehkan, bahkan berwitir satu rakaatpun juga boleh sebagaimana sabdanya yang lalu: “….Maka barang siapa ingin maka ia boleh berwitir 5 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir 3 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir dengan satu rakaat.”

Hadits di atas merupakan nash boleh ia berwitir dengan salah satu dari rakaat-rakaat tersebut, hanya saja seperti yang dinyatakan hadits Aisyah bahwasaya beliau tidk berwitir kurang dari 7 rakaat.

Tentang witir yang lima rakaat dan tiga rakaat dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a. Dengan sekali duduk dan sekali salam
b. Duduk at tahiyat setiap dua rakaat
c. Memberi salam setiap dua rakaat

Al-Hafidh Muhammad bin Nashr al-Maruzi dalam kitab Qiyamul Lail halaman 119 mengatakan: Cara yang kami pilih untuk mengerjakan shalat malam, baik Ramadlan atau lainnya adalah dengan memberi salam setiap dua rakaat. Kalau seorang ingin mengerjakan tiga rakaat, maka di rakaat pertama hendaknya membaca surah “Sabbihisma Rabbikal A’la” dan pada rakaat kedua membaca surah “Al-Kafirun”, dan bertasyahud dirakaat kedua kemudian memberi salam. Selanjutya bangkit lagi dan shalat satu rakaat, pada rakaat ini dibaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas), setelah itu beliau (Muhammad bin Nashr) menyebutkan cara-cara yang telah diuraikan terdahulu.

Semua cara-cara tersebut boleh dilakukan, hanya saja kami pilih cara yang disebutkan di atas karen didasarkan pada jawaban Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shalat malam, maka beliau menjawab: bahwa shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jadi kami memilih cara seperti yang beliau pilih.

Adapun tentang witir yang tiga rakaat, tidak kami dapatkan keterangan yang pasti dan terperinci dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau tidak memberi salam kecuali pada rakat yang ketiga, seperti yang disebutkan tentang Witir lima rakaat, tujuh dan sembilan rakaat. Yang kami dapati adalah bahwa beliau berwitir tiga rakaat dengan tidak disebutkan tentang salam sedangkan tidak disebutkan itu tidak dapat diartikan bahwa beliau tidak mengerjakan, bahkan mungkin beliau melakukannya.

Yang jelas tentang pelaksanaan yang tiga rakaat ini mengandung beberapa ihtimaalat (kemungkinan), diantaranya kemungkinan beliau justru memberi salam, karena demikialah yang kami tafsirkan dari shalat beliau yang sepuluh rakaat, meskipun di sana tidak diceritakan tentang adanya salam setiap dua rakaat, tapi berdasar keumuman sabdanya bahwa asal shalat malam atau siang itu adalah dua rakaat, dua rakaat.

Sedangkan hadits Ubay bin Ka’ab yang sering dijadikan dasar tidak adanya salam kecuali pada rakaat yang ketiga (laa yusallimu illa fii akhirihinna), ternyata tambahan ini tidak dapat dipakai, karena Abdul Aziz bin Khalid bersendiri dengan tambahan tersebut, sedangkan Abdul Aziz ini, tidak dianggap tsiqah oleh ulama Hadits. Dalam at-Taqrib dinyatakan bahwa dia maqbul apabila ada mutaba’ah (hadits lain yang mengiringi), kalau tidak ia termasuk Layyinul Hadits. Di samping itu tambahan riwayatnya menyalahi riwayat dari Sa’id bin Abi Urubah yang tanpa tambahan tersebut. Ibnu Nashr, Nasai dan Daruqutni juga meriwayatkan tanpa tambahan. Dengan ini, jelas bahwa tambahan tersebut adalah munkar dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Tapi walaupun demikian diriwayatkan bahwa shahabat-shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan witir tiga rakaat dengan tanpa memberi salam kecuali pada rakaat yang terakhir dan ittiba’ kepada mereka ini lebih baik baik daripada mengerjakan yang tidak dicontohkan. Dari sisi lain perlu juga diketengahkan bahwa terdapat banyak riwayat baik dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, para shahabat ataupun tabi’in yang menunjukan tidak disukainya shalat witir tiga rakaat, diantaranya: “Janganlah engkau mengerjakan witir tiga rakaat yang menyerupai Maghrib, tetapi hendaklah engkau berwitir lima rakaat.” (HR. Al-Baihaqi, At Thohawi dan Daruquthny dan selain keduanya, lihat Sholatut Tarawih hal 99-110).

Hadits ini tidak dapat dipakai karena mempunyai kelemahan pada sanadnya, tapi Thahawi meriwayatkan hadits ini melalui jalan lain dengan sanad yang shahih. Adapun maksudnya adalah melarang witir tiga rakaat apabila menyerupai Maghrib yaitu dengan dua tasyahud, namun kalau witir tiga rakaat dengan tidak pakai tasyahud awwal, maka yang demikian tidak dapat dikatakan menyerupai. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II:385 dan dianggap baik oleh Shan’aani dalam Subulus Salam II:8.

Kesimpulan dari yang kami uraikan di atas bahwa semua cara witir yang disebutkan di atas adalah baik, hanya perlu dinyatakan bahwa witir tiga rakaat dengan dua kali tasyahhud, tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bahkan yang demikian tidak luput dari kesalahan, oleh karenanya kami memilih untuk tidak duduk di rakaat genap (kedua), kalau duduk berarti memberi salam, dan cara ini adalah yang lebih utama.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting