Kamis, 08 November 2007

Stress


Stress begitulah banyak sahabat berkata kepada saya... kenapa stress.. pertanyaan yang sering saya ajukan kepada para sahabat. dan banyak jawaban dari kenapa stress adalah karena mereka tidaka dapat menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini.

Stress bisa muncul dikarenakan beberapa hal, stress bisa muncul ketika sesorang memiliki cita-cita dan cita-cita yang didambakan tidak kunjung tiba, atau seseorang bisa stress karena kejadian masa depan yang tidak tercapai.

memang stress hanya muncul saat ada masalah, saat tidak ada masalah kita mungkin akan tenang-tenang saja. Begitu ada masalah yang mengancam bisnis kita atau kita mengalami kerugian besar atau terkena musibah maka stress akan mulai muncul. Stress akan bertambah saat investor mulai mempertanyakan uang yang mereka tanamkan kepada kita.

Atau saat karir kita dalam bekerja tidak mengalami peningkatan signifikan, saat kontribusi kita tidak dihargai, dan banyak hal lagi yang menyebabkan stress.

Inilah dinamika hidup. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa ada orang yang tidak memiliki cita-cita atau meraih pancapaian yang lebih tinggi. Mereka mungkin tidak mau menghadapi stress dan menghabiskan energi. Namun seperti quantum, selalu memerlukan energi untuk pindah ke orbit yang lebih tinggi. Jika tidak, kita akan tetap seperti kita sekarang ini.

Oleh karena kita, kita perlu memiliki suatu ketangguhan dalam menghadapi stress. Jangan sampai stress bisa menguasai diri kita dan bahkan menghancurkan diri kita. Ketangguhan itu hanya bisa muncul jika keimanan kita kuat. Setiap masalah dan konsekuensinya adalah dari Allah dan kita serahkan semuanya kepada Allah sambil kita tetap berusaha. Kita akan memiliki ketangguhan jiwa kita.

sesorang yang stress relatif tidak bisa menerima keadaan yang mereka hadapi saat ini, dan berusaha mengubah keadaan diluar kemampuan yang mereka miliki.


atau ketika stress itu datang, coba alihkan pikiran dengan berjalan keluar dari rutinitas yang ada, dengan refresshing atau bertamasya akan dapat meringankan stress yang ada, atau menyalurkan hobby yang dimiliki dengan merawat tanaman, binatang peliharaan, menulis, olah raga. dengan menyalurkan hobby dapat meringkan pikiran kita dan menghindari stress agar kita bisa berkarya dan menjalan kan hiudp dengan lebih baik.

dengan mendekat kan diri kepada tuhan, orang terdekat, keluarga, sahabat, kita bisa berbincang dan berbagi masalah yang ada, dengan berbagi perasaan yang ada kita juga dapat menghilangkan stress diri.

Dan stress dapat diminimalkan dengan selalu bersyukur, dan ikhlas dalam menerima apa yang diberi, dijalani dalam hidup. dengan ikhlas maka apapun yang kita terima tidak akan menjadi suatu masalah. dan kita bisa lebih tenang dalam menjalankan hidup ini.

" Ikhlas menjalani hidup akan menghindarkan anda dari stress "

" beribadah teratur, dekat dengan keluarga, Salurkan hobby adalah obat salah satu cara menghilangkan stress "

Dalam perenunganku, Stress jangan ya..
Depok 07 November 2007
Erwin Arianto
Http://blogerwinarianto.blogspot.com


Rabu, 07 November 2007

Kita yang Korupsi


Saat ini hampir semua element masyarakat meneriak keinginan untuk anti korupsi, pada sektor swasta, sektor pemerintahan, mahasiswa dan masyarakat umum berkeinginan yang kuat untuk menghentikan korupsi yang ada.

Tetapi kenapa semakin besar keinginan untuk menghapus korupsi yang ada, tetapi korupsi semakin semarak, dan hal ini tidak hanya pada kalangan birokrat, PNS, Pejabat, bahkan pada sector swasta budaya korupsi pun terus mengakar.

Definisi Korupsi menurut pribadi saya adalah, mengambil sesuatu yang bukan haknya, dalam hal ini mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah berwujud materi dan imateri.

Hasil pemikiran nakal dengan ilmu yang kurang ini, berdasarkan definisi korupsi yang saya artikan sendiri, ternyata hampir semua orang pernah melakukan korupsi, dan budaya korupsi sudah mengakar dari anak sekolah. Budaya korupsi juga merupakan hasil dari budaya instant yang terjadi saat ini, dimana orang tidak mau mengikuti suatu proses untuk mencapai suatu tujuan. Saat ini orang cenderung mencari jalan pintas atau shortcut untuk mencapai kesuksesan.

Contoh kecil dari pembiasaan korupsi adalah, korupsi waktu, y, dalam hal ini bila ita terlambat kita telah melakukan korupsi waktu, yang sampai saat ini hampir semua orang menyukai untuk datang telat, atau pada saat penyelenggaraan rapat sering molor karena tidak tepat waktu dalam bisnis waktu adalah uang, jadi ketika kita mengkorupsi waktu, sama dengan kita mengkorupsi uang bukan.

Mahasiswa dan pelajar sebagai juru reformasi meneriakan hapus korupsi, tetapi ketika mengingat pengalaman kuliah dulu, saat kita membutuhkan uang, terkadang sahabat saya bilang kepada orang tua untuk membeli buku, walau terkadang peruntukannya hanya untuk keperluan lain. Atau saat waktu kuliah, mahasiswa sering titip absent kerena sedang males atau keadaan apa pun, apakah contoh seperti itu bukan suatu korupsi.

Seorang pegawai swasta yang katanya lebih dari disiplin, dalam hal kecil kita sering ketika jam kantor pergi untuk keperluan pribadi, hal ini pernah terjadi kepada mantan pimpinan saya ketika jam kerja beliau mengajak saya untuk menemaninya berbelanja electronic keperluan pribadi. Suatu korupsi waktu. Atau ketika ada beberapa sahabat saya meminta ATK, atau office supplies yang dibawa pulang untuk keperluan keluarga, walau nilainya tidak material, pembawaan ATK pulang merupakan suatu korupsi, walau terkadang sahabat beralasan “ah Cuma pulpen, tipex, engga akan membuat perusahaan rugi…”

Benar pengambilan ATK kantor hal itu tidak bernilai signifikan, tetapi tindakan tersebut melatih mental kita untuk dapat membiasakan mencuri, mungkin para pejabat yang korupsi miliaran rupiah karena mereka bergelut dengan uang yang jumlahnya begitu tak terhingga, sehingga tertarik mengambil “sedikit “ menurut versi mereka, tetapi hal itu tidak dapat dibenarkan dalam hal apapun.
Atau ketika seorang birokrasi, saat memberi pelayanan, contoh umum dalam berita dalam pembuatan KTP dibilang gratis atau maksimal Pembayaran RP 5000, tetapi pernah saya mengurus Perpanjangan KTP, dimintai lebih dari angka tersebut, ketika saya bilang di Koran beritanya tidak sebesar itu dan pihak oknum kelurahan tersebut berkelit “ya udah, bapak urus KTPnya di Koran saja, lagian kan biaya tersebut untuk ongkos kekecamatan bolak-balik” sunguh ironi seorang pelayan masyarakat seperti itu.

Atau ketika kita diminta untuk menjalankan perintah tuhan, kadang kita sering mengulur waktu karena sedang tidak enak hati, dalam hal ini kita juga telah melakukan korupsi waktu dan korupsi ketaqwaan

Terkadang kita sering teriak hokum para koruptor…. Pernah terpikir ketika kita berbicara lantang seperti itu, jika kita mau jujur diri kita juga seorang koruptor, “walau yang kita korupsi tidak merugikan masyarakat” tetapi kita tetap lah seorang yang pernah melakukan korupsi walau hanya kecil-kecilan.

Sebenarnya kita sudah merasakan dampak akibat korupsi dalam sekala besar mengakibatkan kesensaraan bersama-sama. Dan seorang koruptor adalah seorang penghianat atas kepercayaan yang telah diberikan kepada dirinya.

Maka dalam rangka keinginan kita bersama untuk memberantas korupsi, saya mengajak semua sahabat untuk memulai memberantas korupsi dari diri kita sendiri, dimulai dari hal yang terkecil, dan merambat ke keluarga, ke lingkungan dekat kita, dan terus meluas ke lingkungan tempat tinggal, dan akan terus meluas ke Negara. Ini. Mari mulai jujur terhadap diri sendiri, dan tidak lagi membohongi diri ini, serta tidak melatih diri kita menjadi koruptor “kecil-kecilan”. Semoga pemberantasan korupsi dapat sukses dan Negara ini menjadi makmur tanpa korupsi.

“mari kita wujudkan Indonesia bebas koupsi, di mulai dari saya, anda, dan untuk Indonesia, karena hal kecil yang anda lakukan akan berdampak besar jika kita lakukan bersama”

“Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil, dimulai saat ini” (AA Gym)

Dalam perenunganku, Ayo berantas korupsi…untuk kita bersama
Depok, 18 October 2007, 21:52
Erwin Arianto
Mampir yuk ke http://blogerwinarianto.blogpsot.com

Selasa, 06 November 2007

Jam di Surga


Jam di Surga
Ada serombongan manusia yang sedang menunggu masuk di pintu sorga. Mereka dipanggil masuk satu persatu oleh pejabat malaikat yang bertugas di sana.

Di dinding belakang tergantung puluhan jam dinding sebagaimana layaknya yang terlihat di bandara udara saja. Tetapi ada perbedaannya dengan jam yang ada di dunia ini. Kalau jam di dunia menunjukkan posisi waktu yang berbeda-beda untuk berbagai kota tujuan, jam dinding di sorga juga berbeda kecepatan putarannya.
Salah seorang yang agak bingung bertanya kepada malaikat di sana.


"Hi..malaikat, mengapa jam-jam ini putarannya berbeda-beda," tanya manusia tersebut kepada malaikat.
"Oh itu, jam yang tergantung di sana menunjukkan tingkat kejujuran pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu Anda hidup," jawab sang malaikat.


"Semakin jujur pemerintahan di negara Anda, jam negara Anda disini semakin lambat. Sebaliknya semakin korup pejabat pemerintah negara Anda, semakin cepat pula jalannya," lanjut sang malaikat.
"Coba lihat," kata seorang yang sedang antri kepada yang lainnya, "jam Philipina berputar kencang. Berarti memang benar Marcos banyak korupsi tuh."


"Itu lagi...itu lagi...!!!!" seru yang lainnya, "Jam Kongo, negaranya Mobutu Seseseko berputar tidak kalah cepat dari jam Philipina."

Mereka semua terlihat asik menikmati perputaran jam-jam tersebut. Tapi mereka mencari-cari, dimana gerangan jam Indonesia. Salah seorang dari mereka memberanikan diri menanyakan kepada malaikat tadi.
.
"Hi..malaikat, dimanakah gerangan jam Indonesia?" tanya manusia tersebut.
"Oh, jam Indonesia...Kami taruh dibelakang dapur. Sangat cocok dijadikan kipas angin," jawab sang malaikat

Menghargai Perbedaan pendapat

Suatu kejadian perbedaan pendapat dengan rekan kerja yang terjadi pada saat bekerja telah membuat saya sedikit berfikir untuk dapat berintropeksi diri dari kesalahan, keakuan dan sedikit ego diri.

Terkadang kita sebagai manusia merasa kita yang paling benar, dan kita mungkin pernah meremehkan pendapat, atau saran dari orang, terutama dari orang yang kita anggap lebih rendah status sosialnya, Atau seorang yang baru kita kenal.

Kerap ketika kita menjadi seorang pemimpin sering muncul keangkuhan pribadi dalam menerima pendapat dan kritik, dan kita meremehkan anak buahnya, padahal sesorang disebut pemimpin jika dia memiliki anak buah.

Sering juga kita mengabaikan hati nurani, dalam pengambilan keputusan, sebenarnya perbedaan pendapat adalah suatu anugrah yang patut disukuri, karena dengan perbedaan pendapat kita bisa memiliki banyak pilihan keputusan, atau alternative penyelesaian masalah.

Sering kita sakit hati ketika ide atau gagasan kita tidak diterima oleh sahabat, rekan kerja, rekan bisnis, keluarga, dan suatu hubungan interaksi social lainnya. Coba kita berfikir positif jika pendapat kita belum dipakai, mungkin pendapat orang lain lebih tepat untuk meyelesaikan permasalahan.

Dengan kita bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak maksakan kehendak, adalah cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang, seorang yang sudah berpribadi matang, cenderung akan menghargai pendapat orang lain, dan orang yang belum dewasa akan cenderung memaksakan keakuaanya.

Saat persaingan dunia kerja, atau sebagai penunjukan keeksistensian seseorang, terkadang sesorang dengan tak mau mengalah ingin pendapatnya dihargai, dan diakui sebagai ide miliknya.Sering saya lihat karena perbedaan pendapat orang berkelahi fisik, atau saling mendendam dan berniat untuk saling menjatuhkan. Hal tersbut kurang lah bermanfaat, yang terjadi adalah suatu kerusakan, dan sikap saling memusuhi.

Seperti sifat asli bangsa Indonesia yang suka bermusyawarah untuk mufakat yang saat ini sudah jauh ditinggalkan, dengan banyaknya pendapat berbeda juga bisa menginspirasi munculnya ide baru hasil penggabungan fisi beberapa orang yang ada.

Jadi kenapa tidak kita bergabung bersama untuk mendapat ide yang lebih baik, atau menghargai ide orang lain saat ide kita tidak diterima. Tetapi kita juga janganlah congkak ketika ide kita diterima. Mari kita saling menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Karena manusia terdiri dari banyak pemikiran. Dan mari kita buat perbedaan menjadi hal yang menyatukan.

" Bersifat lapang dada saat ide kita tidak diterima adalah sebuah proses kematangan diri "

" Menghargai perbedaan pendapat adalah sangat bijaksana"

Dalam Perenunganku, mencoba menghargai pendapat sahabat
Depok 17 October 2007 11:23
Erwin Arianto

http://blogerwinarianto.blogspot.com/

karena hati...


Seorang saleh sedang terburu-buru karena terlambat bangun untuk pergi ke
tempat ibadah. Ia berlari dan tergopoh-gopoh mengejar kendaraan umum yang
bisa membawanya pergi ke tempat ibadahnya itu.

Tiba-tiba di pinggir jalan ada seorang pengemis menghampiri dia dan
memohon-mohon dengan begitu memelas.

Orang saleh ini hanya diam sambil terus menunggu kendaraan. Namun si
pengemis tetap memohon. Si saleh tetaplah diam tak peduli sambil terus
memandangi jam tangannya.

Kendaraan umum datang. Namun tubuh lunglai pengemis menghalangi dia untuk
naik. Akhirnya si orang ini menghadrik...
" Tahu gak sih, aku udah terlambat sekarang. Kamu mengganggu aja. Minggir..
"

Singkat cerita, ia meninggalkan si pengemis begitu saja. Tanpa melakukan
apapun.

Sesampainya di depan tempat ibadah, ia begitu terkejut karena pengemis itu
udah ada disana mendahului dirinya. Sebuah kata singkat darinya...

" Aku tidak membutuhkan kesalehan kamu, aku hanya membutuhkan cinta kasih
dari kamu "

Seketika pengemis itu menghilang dari pandangan.

Tentang kepedulian dan cinta kasih. Apa iya sih saat ini kita masih
memilikinya? Atau mungkin kita hanya peduli pada hal-hal yang sifatnya lebih
sementara?

Coba bayangkan tiga atau empat tahun lagi dari sekarang

Orang mungkin udah akan lupa...
Apakah dulu nilai yang dapat itu kamu A+ atau C+?
Apakah dulu kamu pernah mengucapkan kata-kata hebat ketika kamu berada di
depan mimbar atau ketika kamu berpidato?
Apa saja barang-barang mewah yang pernah kamu beli untuk meningkatkan
penampilanmu?

Namun mereka akan sulit sekali melupakan...
Setiap perhatian yang pernah kamu berikan ketika kamu bersedia mengajari
mereka...
Setiap kata yang engkau berikan untuk membangun dan menyemangati mereka...
Setiap pemberian sederhana yang pernah mereka terima di hari ulang
tahunnya...
Setiap detik yang kamu luangkan di saat mereka membutuhkan engkau...

Mungkin hanya hal sederhana, namun itu adalah sesuatu yang begitu berarti
ketika kamu memberikannya dengan tulus.

Namun sayang...

Mungkin kita adalah orang yang dituntut untuk hidup cepat tanpa harus peduli
satu sama lain...

Mungkin kita adalah generasi yang dididik untuk menyelamatkan diri sendiri
sebelum memberi perhatian kepada orang lain...

" Eh dia masuk rumah sakit, mau ikut pergi jenguk ga? "
=> " Oooh titip salam ya. Aku masih banyak urusan lain nih. "

" Eh, aku boleh minta waktu kamu sedikit ga. Aku lagi dalam masalah berat
nih "
=> " Tar aja yah Sibuk kerja nih "

Aku tidak tahu seberapa sedikit waktu yang sudah tersita untuk segala macam
kesibukan yang kamu lakukan...

Aku cuma percaya...
Bahwa kita pasti masih punya waktu asalkan kita cukup mau mempunyai rasa
peduli pada orang lain.

Aku cuma percaya
Bahwa kita pasti masih bisa punya perhatian, asalkan kita mau untuk
meluangkannya.

Itu lebih tergantung dari isi hatimu, dari apa yang ada di dalam kamu...
bukan tergantung dari apa yang ada di luar diri kamu.

Memilih untuk peduli atau tidak peduli ada di dalam kontrol kamu... bukan
dalam kontrol situasi yang ada di sekeliling kamu.

Ada begitu banyak alasan untuk menjadi tidak peduli; karena kesibukan,
karena gengsi, karena malas, karena capek, atau apapun itu...

Namun hanya ada satu alasan untuk menjadi peduli

karena hati...

Senin, 05 November 2007

Bersyukurlah dan berbahagialah


Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang
menarik.
Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada
murid-muridnya di depan kelas.
Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

" Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di
sini.
Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ?
Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?"

Murid-murid tampak saling pandang.
Terdengar suara lagi dari Pak Guru,
" Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian ..."

Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu
menunjuk pada seorang murid.
" Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ?
Berbagilah dengan teman-temanmu ..."

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid,
" Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya.
Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya
impikan selama ini."

Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.
" Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa
mengalahkan kebahagiaan itu !"

Pak Guru tersenyum.
Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya.
Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir.

Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil.
Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri.
Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka
dapatkan.
Hampir semua telah bicara,hingga terdengar suara dari arah belakang.
" Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita."

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil.
Matanya berbinar.
Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar
yang mereka punya.

" Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua,"
ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.

" Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?"
ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

" Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah ...
saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari
yang lalu."

Sesaat senyap.
Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu.
Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar
cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar,
" Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon.
Buku Telepon ?
Betapa menyedihkan ... hahaha ..."

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali,
" Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam
itu ?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.
Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.

" Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya.
Silahkan teruskan, Nak ..."

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara.
" Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan.
Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik.
Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah.
Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi."

Matanya tampak menerawang.
Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.

" Tapi, kini Papa telah berubah.
Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya.
Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha.

Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat
bekerja.
Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa
saya.

Dan kini, Papa berhasil.
Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami.
Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi."

" Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon ?
Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa
untuk terus berlari.
Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi.

Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang
dingin.
Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya dengan
keluarga-keluarga lainnya."

Matanya kembali menerawang.
Ada bulir bening yang mengalir.
" Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti ..."

Kelas terdiam.
Pak Guru tersenyum haru.
Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan.
Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan
kebahagiaan.

Mereka juga belajar satu hal :
" Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan
orang lain.Sekecil apapun ...Sebesar apapun ..."

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting