Selasa, 02 Oktober 2007

Di hampar biru tudung langit


Dihampar pasir putih
Dalam ragu ku tunggu senja
Masih saja aku ngelangut sendiri
Debur ombak menunjuk arah

Hanya rindu tertitah
Dalam jiwaku yang serupa
Yang merengkuh indah samudra
Memancar sinar mutiara katulistiwa

Garis cakrawala adalah bayangan hampa
Menarik diri dalam terawang jiwa
Pada akhir senja yang terlunta
Sampurnakan pertemuan rasa

Aku rebahkan diri
Di hampar biru tudung langit
Melukis sebuah Angan
Dalam arak putih sang awan

Tuhan ku
Dalam semua pertanda
Ku taklukan jiwa
Dalam mendekat dan mengabdi
Akan rekah diakhir titahmu
Dalam kepasrahaan menyerahkan semua
Hidup dan pengabdian dan tak terbagi

Dalam perenungan malamku, coret-coretan kangen jiwa kita
Depok 30 September 2007 21:56
Erwin Arianto
Be my friend come to http://blogerwinarianto.blogspot.com

Jangan bergosip ya!!!


Sebel deh suatu saat saya duduk di dihadapan seorang wanita di kantor, awalnya saya begitu gembira mendapat teman untuk berdiskusi tentang masalah pekerjaan kantor, orang yang dapat membantu saya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh big-boss.

Lama kelamaan saya berhubungan pekerjaan dengan teman saya tersebut saya makin kesal dengan orang tersebut, kenapa karena teman wanita saya itu sering menggosip menceritakan semuanya tanpa kebenaran.

Pekak kuping ini setiap hari mendengar cerita tentang si ini-si itu lah teman-teman kantor yang begini-begitu, jenuh saya lama-lama mendegarnya, apakah gossip wujud dari kepedulian sesorang terhadap orang lain…., kenapa orang terlalu peduli dengan orang lain sehingga memasuki wilayah privat orang lain.

Apakah seorang penggosip menganggap dirinya begitu sempurna, tiada cela dan khilaf sehingga dia berhak membicarakan kesalahan orang lain.

Hampir setiap hari kita disuguhi acara entertainmen, dimana gossip adalah suatu yang dapat dijual dengan harga tinggi tidak percaya lihatlah fenomena munculnya entertainment disetiap tayangan televisi, hampir disetiap waktu dari pagi, siang, sore malam, subuh. Dan tidak henti-hentinya.

Menurut saya gosip adalah suatu penyakit masyarakat, karena dapat me menyakiti sesorang yang terkena gossip, kadang mematikan karakter seseorang, malah kadang bisa membuat orang yang digosipin akan dibenci oleh orang lain karena gossip mengarah ke fitnah.

Pernahkah kita membayangkan bila kita digosipkan tidak benar, sangat menyakitkan bukan, tetapi kita akan sanagt senang membicarakan sesorang. Gossip atau bergunjing, dimana dalam norma agama bergosip, fitnah, atau pun bergunjing adalah tidak diperbolehkan.

Perlu disadari bergosip, ngerumpi, tidaklah menimbulkan manfaat sedikit pun, dengan bergosip hanya menimbulkan keburukan. Tetapi, untuk melakukan kebaikan - tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak baik. Siapa pun, dan apa pun dia - dia menjadi orang baik saat dia melakukan kebaikan. Hanya saja, bedanya antara dia dan orang yang betul-betul baik - adalah dia kembali melakukan keburukan.

Dengan ini saya mengajak para sahabat semua untuk segera meninggalkan kebiasaan bergosip, karena tidak bermanfaat, hanya menimbulkan fitnah. Karena biasanya dalam bergosip orang hanya membicarakan hal-hal buruk dari seseorang. Dan kita pastinya tidak mau bila keburukan kita dicirakan orang, jadi kenapa kita harus membicarakan keburukan orang. Karena manusia tidak luput dari salah dan dosa.

“ bergosip sama dengan menfitnah, dan tidak memberikan manfaat yang baik bagi siapapun :

Dalam perenunganku, ketika teringat seorang sahabat yang senang bergosip
Cikarang, 2 october 2007
Erwin Arianto
Mampir ke http://blogerwinarianto.blogspot.com

Senin, 01 Oktober 2007

KASIHILAH SELAGI BISA


KASIHILAH SELAGI BISA
Untuk mengingatkan bahwa ada orang yang menyayangi kita (mungkin...) tanpa kita sadari... sampai suatu saat kita harus kehilangannya...... dan apakah kita harus kehilangannya lebih dahulu untuk menyadarinya....?

Semuanya itu disadari Lindang seorang direktur suatu perusahaan multinasional pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya.

Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka. Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya, Hapsari, di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu.

Malam itu, 3 minggu yang lalu Lindang membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.

Pada saat Lindang memeriksa pekerjaannya, Hapsari, putrinya yang baru berusia 2 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri.
Dia berkata dengan suara manjanya,
"Papa lihat !"
Lindang menengok ke arahnya dan berkata,
"Wah, buku baru ya ?"
"Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Bacain dong !"
"Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh", kata Lindang dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.
Hapsari hanya berdiri terpaku di samping Lindang sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali,
"Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Hapsari".
Dengan perasaan agak kesal Lindang menjawab,
"Hapsari dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk
membacakannya."
"Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa," katanya sendu.
"Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu."
"Lain kali Hapsari, sana! Papa sedang banyak kerjaan."
Lindang berusaha untuk tidak memperhatikan Hapsari lagi.

Waktu berlalu, Hapsari masih berdiri kaku di sebelah ayahnya sambil memegang erat bukunya.
Lama sekali Lindang mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Hapsari mulai lagi,
"Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti
bagus!
Papa pasti akan suka."
"Hapsari, sekali lagi Ayah bilang, lain kali!" dengan agak keras Lindang membentak anaknya.
Hampir menangis Hapsari mulai menjauh, "Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali."
Tapi Hapsari kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya,menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata,

"Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Hapsari, baca saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Hapsari juga bisa ikut dengar."
Lindang hanya diam.

Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran Lindang.Lindang teringat akan Hapsari yang dengan penuh pengertian mengalah.

Hapsari yang baru berusia 2 tahun meletakkan tangannya yang mungil di atas tangannya yang kasar mengatakan, "Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Hapsari bisa ikut dengar."
Dan karena itulah Lindang mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Hapsari di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai
usang dan koyak. Lindang mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. Lindang sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat penting.
Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah.
Lindang terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Hapsari untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir.
Mungkin...

Sumber: uknown

"Lakukan sesuatu untuk seseorang yang anda kasihi sebelum terlambat, karena sesal kemudian tidak akan ada gunanya lagi....
Lakukan sesuatu yang manis untuk orang-orang yang kamu kasihi, dengan waktu yang anda punya..."

" Maka syukuri lah apa yang kita miliki sebelum semuanya hilang karena tidak kita pedulikan"

Kita Seperti Benih Kecil


Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.

Seperti benih pohon menyimpan segalanya. Benih menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar.

Pandanglah pohon besar . Tahukah kamu, batangnya yang kokoh , dulu berasal dari benih yang kecil . Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih . Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih kecil. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.

Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?

Para Sahabat, kita adalah layaknya benih kecil . Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Para Sahabat. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.

Menjemput bidadari jiwa yang tercantik


Camar menari sendiri
Berlarut ombak kulayari
Ku berkubang di purnama
Yang menyimpang di telaga jiwa

Hatiku yang gagu
Serpih kepasrahan Dari nuansa waktu
Kasih kapan kita akan berjumpa kata
Dan mengakhiri tetes air mata
Pada semesta cahaya

Jangan biarkan waktu melaju
Kita belum selesai memadu
Meretas seluruh rasa berpadu
Meramu semua dalam sebuah semu

Kerinduan yang dalam dalam kalbu
Menggapai nirwana dalam keindahan
Menjemput bidadari jiwa yang tercantik
Meramu nyanyian Hati menerisik

Jiwaku mengaca
Pada bening parasmu
Mencari dalam keheningan
Menulis cerita kita dalam ruang jiwa kita berdua

Dalam perenungan malamku, coret-coretan untuk cintaku
Depok 30 September 2007 21:56
Erwin Arianto
Be my friend come to http://blogerwinarianto.blogspot.com

tatap pucat sang mawar


Tergoda dengan panggilan rasa
Melengking pilu
Menjelma menjadi detak kasih
Masih adakah yang kutuju

Tapi di lubuk sukma
Masih tersimpan getir debar
waktu tahu apa yang dirasa kini
Menuntunku meraba celah hati

Jangan biarkan impian ini usai
Masih ingin membelai impianku
Gemetar di belai hembusan nafas cinta
Merasa cemas dalam getas

Karena rasa ini aku menderita
tatap pucat sang mawar
Membawa sebuah rasa terperi
Meresapi sebuah rasa di dalam hati

Sedikit regukan madu cinta
Mengikuti impianku yang menyerap
Memberi dan menatap tanpa harap
Menyakinkan rasa yang makin menetap
berlari dan mendekap cinta yang meresap

Dalam perenungan malamku, coret-coretan kangen jiwa kita
Depok 30 September 2007 21:56
Erwin Arianto
Be my friend come to http://blogerwinarianto.blogspot.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting