Selasa, 04 September 2007

Ning Nong


Ning Nong
-----------------

Sarmin baru sekali ini ke Jakarta. Maklum dia baru saja menjual hasil
panennya, jadi sekali-sekali ingin menikmati pelesiran di ibukota.

Untuk oleh-oleh para sanak saudara di kampung dia berniat membeli
beberapa barang.

Suaru hari dia pergi ke Pasar Mangga Dua, karena katanya apa-apa
murah disana. Setelah berkeliling, mampirlah dia ke sebuah kios
pakaian. Pemilik kios itu adalah seorang Cina totok.

"Berapa baju yang ini ?"
"Ha-yya, GO CENG saja lah!"

Berkerut jidat Sarmin, karena tak tahu berapa GO CENG itu. Si empunya
kios karena melihat Sarmin terdiam lantas berkata:

"Boleh tawal lah sedikit"
Karena sudah terlanjur bertanya, untuk menjaga GENGSI, dengan
mantapnya Sarmin menawar:

"NING NONG boleh nggak?"
"Haa?' terbelalak si engkoh. "Belapa itu Ning nong?"

"Lha GO CENG itu berapa hayo?" Sarmin balik bertanya.
"Go ceng itu lima libu woo!" jawab si engkoh.

Setelah berpikir sebentar Sarmin pun bilang:
"Ooo, kalau begitu, Ning Nong itu yaa..... kira-kira tiga ribu lima ratus lah!"

"Abang mau beli kue?"


Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke
Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya
menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah
sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan,
seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun
muncul di depan.


"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum.
Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi
penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah
pesan makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih
kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi
menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri
sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu
saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya
tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,"
kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi
cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia
meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu
dia tanya, "Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak
atau Ibu." Molek budi
bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk
restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan,
terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat
betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah
atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun
orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus
pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh
di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu,
membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya
menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil.
Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca
jendela. Membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue
saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya
sopan sekali sambil tersenyum.

Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan
menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul
perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet,
dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.
"Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli
kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan
meningkat mendadak.
Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan
terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima
deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan.
Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu
mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada
seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya
terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu.
"Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis
itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa
menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau
dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja
mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa
duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih
banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang
yang tak
berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu
lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan
hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya
berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma
mengangguk. Lidah saya
kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas
dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik,
saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima
kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga
hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya
statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati
mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang
saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar
kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat
menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya
saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan
saya, siapa kita sebenarnya.

sumber email seorang sahabat : ashfi60@yahoo.com

Senin, 03 September 2007

Kini sendiri disini sepi


Rembulan tiba datanglah sang malam
Membawa suasana yang temaram
Hilang lah sinar harapan kelam
Tergores keinginan dari hati terdalam

Pernah kita lalui bersama
Dalam suatu dunia yang maya
Tenggelam dalam untaian kata
Memberi makna tentang kita

Kini sendiri disini sepi
Waktu berdetik perlahan membuang untaian tak berarti
Nurani berkata tak bisa jalani sendiri
Selalu keinginan untuk dapat berbagi

Kini kau berada disana di benua biru
Menyisakan sedih haru
Mengingat saat kita bersatu
Menginginkan rasa yang menyatu

Jauh jarak terbentang
Membuat jiwa berteriak tak tenang
Membuat air mata berlinang
Saat rindu datang menyerang

Pernah kita lalui semua
Berbagi suka, duka, canda tawa
Kini hanyalah kenangan berdua
Hanya itulah yang menguatkan asa

Perpisahan bukanlah duka, tuk menyembuhkan luka
Memberi makna pengorbanan jiwa
Untuk suatu akhir yang bahagia
Bersatu bersama untuk selamanya
Tepilih Dalam suatu ikatan cinta setia berdua

Saat Perunangan Malam, Sayang shinta

Erwin Arianto,SE
More detail about my article just visit http://erwinarianto.blogspot.com

Kewajiban dalam Penyelenggaraan Jenazah


Kewajiban dalam Penyelenggaraan Jenazah

Kewajiban orang yang hidup kepada orang yang meninggal ada dua hal, yaitu kewajiban terhadap jenazahnya dan kewajiban terhadap harta peninggalannya.

Adapun kewajiban terhadap jenazahnya ada empat macam, yaitu 1). memandikannya, 2). mengkafaninya, 3). menshalatinya, 4). menguburkannya.

Sedangkan harta peninggalan jenazah itu diprioritaskan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan jenazah, yaitu:
1- Biaya mengurus jenazahnya.
2- Membayar hutangnya, baik hutang kepada sesama manusia atau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti nadzar, kifarat, kewajiban hají yang belum dilaksanakan dan sebagainya. Bila jenazah itu tidak memilki tinggalan harta untuk membayar hutangnya, maka menjadi tanggungan ahli warisnya dan bila ahli waris juga tidak ada, maka menjadi tanggungan orang Islam yang mampu yang ada di sekitarnya.

Hutang ini penting untuk diperhatikan, sehingga sebelum menshalatkan jenazah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terlebih dahulu selalu bertanya, apakah jenazah tersebut masih memiliki hutang. Jika jenazah tersebut memiliki hutang, beliau tidak menshalatinya, hanya menyuruh sahabat-sahabatnya saja yang menshalatkannya. Jika hutang itu ada sahabat yang menanggung, baru beliau mau menshalatinya.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Allah akan mengampunkan semua dosa orang mati syahid kecuali hutang.”
(Hadits Riwayat Abu Dawud)


3- Membayar wasiat, asal tidak lebih dari sepertiganya.
4- Pembagian waris, setelah semua kewajiban di atas dipenuhi, maka harta itu dibagi kepada ahli warisnya sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Dalam kenyataannya, praktek pembagian waris menurut syariat Islam tidak banyak dilaksanakan oleh Umat Islam. Dan orang yang mempelajari ilmu inipun sangatlah sedikit.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam 14 abad yang lalu sudah mensinyalir keadaan yang demikian, sehingga beliau sangat menekankan kaum muslimin untuk mempelajari Faraidh atau Ilmu Mawaris, karena ilmu ini lama-lama akan lenyap, yakni orang-orang menjadi malas untuk melaksanakan pembagian pusaka menurut semestinya, yang diatur oleh hukum Islam.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Pelajarilah Faraidh (pembagian harta warisan) itu dan ajarkanlah kepada orang lain.
Sesungguhnya aku adalah seorang manusia yang bakal dicabut nyawa.
Dan sesungguhnya ilmu itupun akan ikut tercabut pula.
Juga akan lahir fitnah-fitnah sehingga terjadilah perselisihan antara dua orang karena hal warisan. Kemudian mereka berdua itu tidak mendapatkan orang yang akan memberi keputusan (terhadap masalah yang diperselisihkan itu) di antara mereka berdua.”
(Hadits Riwayat Al-Hakim).


Peringatan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam ini benar-benar menjadi kenyataan sekarang. Banyak ‘alim (ulama) yang mengerti berbagai ilmu, tapi sedikit sekali yang menguasai Ilmu Faraidh. Oleh karena itu, Faraidh memiliki kedudukan yang tinggi dan penting untuk dipelajari, seperti diperintahkan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam :

“Pelajarilah Faraidh dan ajarkanlah ia karena ia (Faraidh) seperdua ilmu
dan ia akan dilupakan dan dialah yang pertama akan dicabut dari umatku.”
(Hadits Riwayat Ibnu Majah dan Dara Qutni)


Petunjuk Al-Qur’an tentang pembagian waris itu diterangkan dalam ayat-ayat mawaris, antara lain : Surah Annisa ayat 7-14 dan ayat 176.

Ada beberapa riwayat yang menceritakan sebab-sebab turunnya ayat waris, di antaranya riwayat yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, yaitu bahwa seorang perempuan (isteri Sa’ad bin Rabi’) datang menghadap Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dengan membawa dua orang anak perempuan puteri Sa’ad.

Perempuan itu berkata: “Wahai Rasulullah ! Dua orang anak ini adalah puteri Sa’ad bin Rabi’, ayah mereka gugur sebagai syuhada dalam pertempuran Uhud. Paman mereka telah mengambil semua harta peninggalannya, sehingga mereka berdua tidak kebagian apa-apa, padahal mereka tidak dapat menikah tanpa harta.”

Maka Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Allah akan memutuskan kasus tersebut.” Kemudian turunlah ayat waris Surah An-Nisa’ ayat 11-12.

Setelah itu lalu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam mengirimkan utusan untuk memberitahukan kepada paman kedua puteri Sa’ad. Hendaklah kedua puteri Sa’ad itu diberi bagian dua sepertiga, ibunya diberi seperdelapan dan sisanya untuk pamannya.

Adapun pada ayat 176 Surah An-Nisa’ menjelaskan tentang masalah “Kalalah”, yaitu seorang yang meninggal dunia dan tidak punya anak, tetapi ada saudaranya. -.-

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI


MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI

Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Allah, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Allah dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Allah tidak mengatakan: 'supaya kamu tinggal bersamanya'). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur'an menjelaskan: "Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya." (Al Baqarah: 187)
Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sanakomunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?


“ Orang yang sukses adalah orang yang sukses dalam karir, bisnis dan orang yang sukes membina keluarganya “

“ Negara yang kuat berawal dari keluarga yang kuat, Pribadi biasa sukses lahir dari keluarga yang harmonis”

Terilhami dari keluargaku, dari kelurga kantorku, teman-temanku, dan dari keluarga milist semuany.

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga milis Inspirasi Indonesia yang telah memberi penghargaan yang besar “Indonesia Inspirator Award” terimakasih, walau sebenarnya belum pantas untuk saya menerimanya dan penyebutan saya sebagai Inspirator. Saya pun banyak belajar dari para senior saya bapak Wuryanano, Bapak Eko Jalu Santoso, Bapak Agus Syafii, dan Inspirator Lainya.

Dalam Perenungan Malamku, Ingin bermanfaat bagi dunia
Cimanggis-Depok 2 September 2007
Erwin Arianto
Just See my article in Http://erwinarianto.blogspot.com

sukses dan Keluarga


Kita semua mau untuk sukses dalam karir, dalam bisnis, kepada siapa kesuksesan tersebut akan kita persembahkan, untuk kepuasan diri sendiri…, sahabat, rekan, dan yang pasti keluarga.
Kadang kita melupakan peran keluarga yang membantu kita, mendorong kita, memotivasi kita untuk sukses, berawal dari sebuah keluarga kesuksesan itu berawal, berawal dari keluarga suatu Negara dibentuk.
Keluarga yang terdiri dari orang tua, dan anak adalah suatu ikatan social terbentuk, bagi saya yang belum menikah, dan berperan sebagai anak dalam suatau keluarga, terkadang kita melupakan peran keluarga, dari kasih sayang sesame keluarga kita belajar kasih sayang, keluarga membentuk karakter kita, keluarga yang baik akan menghasilkan pribadi-pribadi yang unggul dan siap bersaing.
Sering saya membaca, mendengar, bertukar pikiran dengan para sahabat, dimana seorang yang sukses telah memiliki harta, jabatan semua telah dimiliki, tetapi orang tersebut tidak terlalu peduli terhadap keluarga, anaknya yang terkena narkoba, istri yang terlalu sibuk dengan kegiatan. Apakah yang di dapat orang tersebut bisa di bilang sukses..?
Menurut pendapat saya pribadi saya orang tersebut adalah orang yang gagal, kenapa orang sukses tersebut memiliki jabatan, harta tetapi, akan diakui kita lebih sering tinggal di rumah, ketika orang tersebut pulang, perasaan tersiksa lah yang akan diterima karena tidak adanya kasih sayang, dan saling percaya dalam keluarganya.
Banyak orang sukses dengan keluarga yang kurang harmonis, justru pada akhirnya akan membawa kehancuran pada dirinya, dan kehidupannya, karena keluarga adalah factor dalam kehidupan kita sebagai manusia.
Kita tidak dilarang untuk sukses, tetapi membina keluarga yang baik adalah lebih utama dan mulya. Jangan kita menghidupi keluarga kita dengan cara-cara yang tidak baik karena percaya atau tidak, dimulai menafkahi keluarga dengan cara-cara yang kurang terpuji, dari hasil korupsi, mencuri, menipu dan hal-hal yang lain kurang baik, akan menghasilkan keluarga yang tidak baik juga.
Menafkahi keluarga dengan cara yang halal, kemungkinan terbesar akan menciptakan keluarga yang baik. Membina keluarga yang baik tidak hanya kita mencukupi seluruh kebutuhan materi, Walaupun diakui karena kurang materi pun dapat menghancurkan keluarga juga.
Tetapi selain kebutuhan materi, keluaga akan terbentuk dengan baik jika sesame angggota keluarga dapat berkomunikasi dengan bebas, kebebasan mengeluarkan pendapat sehingga seseorang dapat menunjukan jati dirinya dengan baik dan dapat berkembang, rasa peduli sesame, saling mendukung. Memang pengungkapan akan lebih mudah, di banding dengan keadaan sesungguhnya.
Penanaman norma-norma agama, dan masyarakat yang baik, akan sangat bermanfaat terhadap pembentukan pribadi yang baik. Bila dalam keluarga terbiasa dengan saling mengyayangi dan mendukung, saya yakin akan menghasilkan individu yang optimis dan sukses, jika keluarga saling menyayangi dan memaafkan , maka akan menghasilkan pribadi yang baik, dan mempunyai toleransi yang tinggi. Selain keluarga biologis yang kita miliki, kita juga memiliki keluarga lainya, komunitas bisnis, komunitas kantor, komunitas milist dan lainya.
Hal tersebut saya ungkapkan berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap beberapa teman kuliah saya, teman kantor, ketika saya main dan berkunjung ke rumah dan rekan saya.. Maka selain kita menginginkan kesuksesan karir, bisnis, mari kita mulai sukses keluarga, mari kita nafkahi keluarga kita dengan cara yang benar dan halal untuk membentuk keluarga yang baik dan sukses. Bila terdapat kata-kata dan pemikiran yang salah saya mengharap maaf dari para sahabat. Jika terdapat kritik, saran harap ditujukan langsung ke email erwinarianto@gmail.com.

“ Orang yang sukses adalah orang yang sukses dalam karir, bisnis dan orang yang sukes membina keluarganya “

“ Negara yang kuat berawal dari keluarga yang kuat, Pribadi biasa sukses lahir dari keluarga yang harmonis”

Terilhami dari keluargaku, dari kelurga kantorku, teman-temanku, dan dari keluarga milist semuany.

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga milis Inspirasi Indonesia yang telah memberi penghargaan yang besar “Indonesia Inspirator Award” terimakasih, walau sebenarnya belum pantas untuk saya menerimanya dan penyebutan saya sebagai Inspirator. Saya pun banyak belajar dari para senior saya bapak Wuryanano, Bapak Eko Jalu Santoso, Bapak Agus Syafii, dan Inspirator Lainya.

Dalam Perenungan Malamku, Ingin bermanfaat bagi dunia
Cimanggis-Depok 2 September 2007
Erwin Arianto
Just See my article in Http://erwinarianto.blogspot.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting