Jumat, 13 Juli 2007

Melacak jejak cinta

Melacak Jejak Cinta“Mengapa saya tidak betah berlama-lama di masjid seusai shalat?”“Mengapa saya selalu merasa berat hati saat imam membaca surat-surat yang panjang dalam shalat jamaah yang saya ikuti?”“Mengapa saya sulit bangun malam untuk mengerjakan shalat barang tiga rakaat?”“Mengapa saya tak kunjung bisa mengkhatamkan bacaan al-Qur`an sekali sebulan, padahal saya tahu keutamaannya?”Masih ada ratusan bahkan ribuan pertanyaan ‘mengapa’ seperti pertanyaan di atas yang mungkin salah satunya menghampiri masing-masing kita. Jawaban dari semua pertanyaan itu hanya satu: karena cinta kita kepada Allah terlalu lemah, atau bahkan telah padam dan tergantikan oleh cinta kepada selain-Nya.
Tak boleh ada dua cintaUmmul mukminin ‘Aisyah ra. menyampaikan, “Seringkali ketika kami sedang asyik bercakap-cakap dengan Rasulullah saw., tiba-tiba beliau seakan tidak mengenali kami. Yaitu jika terdengar seruan adzan.”
Begitulah Rasulullah saw. dalam mencintai Allah. Beliau telah mempersembahkan seluruh hatinya kepada Allah. Apa pun yang dicintainya di dunia ini (beliau menyatakan bahwa beliau mencintai wanita, dan ‘Aisyah adalah wanita yang paling dicintai sepeninggal Khadijah) tak akan pernah mengalahkan cinta beliau kepada Allah. Maka ketika adzan dikumandangkan, hati beliau pun segera ‘terbang’ meninggalkan dunia ini, tidak mengenal siapa-siapa lagi, meski itu wanita yang paling beliau kasihi.
Dan begitulah hati. Ibarat bejana ia mesti dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah. Jika tidak, bagian yang kosong itu pasti akan diisi oleh kecintaan kepada selainnya. Jika sudah demikian adanya, ia tidak akan diterima oleh Allah. Hati hanya boleh diisi dengan kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa saja yang diperintahkan atau diizinkan oleh-Nya.Dan begitulah cinta, ia hanya ada dua: cinta kepada Allah serta cinta karena-Nya, dan cinta kepada selain Allah serta cinta karena selain-Nya. Keduanya akan memperebutkan hati, tempat terbaik untuk bertahta. Keduanya tak mungkin rela berbagi.
Karena tak KenalJika kita belum mendapati cinta kepada Allah di dalam hati, atau masih dengan mudah membiarkan hati kita diisi dengan kecintaan kepada dan karena selain Allah, itu pasti karena kita belum mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sebab jika kita telah mengenal Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya sebagaimana mestinya, kecintaan kepada Allah itu pasti akan tumbuh subur dengan cepatnya.
Bagaimana bisa hati kita tidak mencintai Allah dan bergerak karena cinta kepada-Nya jika ia tahu bahwa Allah Mahakuasa; tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini kecuali dengan kehendak-Nya? Bagaimana bisa hati kita tidak mencintai Allah dan berbicara karena cinta kepada-Nya jika ia mengerti bahwa Allah Mahasempurna; segala keindahan dan kenikmatan ini adalah anugerahnya? Bagaimana hati kita tidak mencintai Allah jika ia mengerti bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyabar, Maha Bijaksana, Maha Menjaga, dan seterusnya?Semakin dalam tadabbur kita kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, ~dengan anugerah-Nya~ semakin dekatlah kita kepada cinta kepada-Nya.
Karena tak tahu diriJika kita telah mengenal Allah dengan baik, tetapi tutur kata dan perilaku kita masih saja belum mencerminkan seorang yang mencintai Allah, itu pasti karena kita adalah si hamba yang tak tahu diri, tak mengerti berterima kasih. Apa yang akan diperbuat oleh seseorang kepada orang lain yang setiap harinya menyediakan sarapan pagi, makan siang, dan makan malam terlezat di dunia, gratis, tanpa bea sepeser pun? Apa yang akan diperbuat oleh seseorang kepada orang lain yang setiap harinya menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita atau menjamin kecukupan finansial kita? Lebih sederhana lagi, bagaimana yang kita lihat sikap seorang bawahan kepada atasannya?
Nah, bukankah Allah telah dan terus memberikan semua yang kita butuhkan? Bukankah Allah yang mencukupi semua keperluan hidup kita? Oksigen, air, buah-buahan, biji-bijian, dan semuanya, bukankah itu datang Allah? Betapa tak tahu dirinya kita jika kita belum juga berusaha mencintai-Nya dengan sepenuh lagi. Apalagi, semua yang kita kerjakan dalam cinta kepada-Nya, semua kebaikannya akan kembali kepada kita sendiri.
Sepuluh tanda cintaDalam Raudhatul Muhibbin Ibnul Qayyim menjelaskan, ada sepuluh perkara yang akan hadir sebagai pertanda cinta. Maknanya jika memang ada cinta pada diri seseorang, pastilah salah satu atau keseluruhan dari kesepuluh tanda cinta ini akan tampak pada dirinya.
Pertama, selalu memandang yang dicinta. Seorang yang mencinta ia akan berusaha untuk memandang yang dicintainya. Apa pun syarat yang diajukan oleh yang dicintainya untuk dapat memandang wajahnya, pasti akan dipenuhinya. Di dunia orang yang mencintai Allah tak akan bisa memandang-Nya, tetapi di akhirat Dia menjadikan ‘memandang wajah-Nya’ sebagai nikmat terbesar bagi mereka. “
Kedua, tertunduk saat dipandang oleh yang dicinta. Saat dipandang oleh yang dicinta seseorang pasti akan tertunduk; entah karena malu atau karena khawatir tidak bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Begitu pun dengan seseorang yang mencintai Allah. Ia yang setiap saatnya ~bahkan saat ia tak sadarkan diri, terlelap dibuai mimpi~ senantiasa dilihat oleh Allah, mestinya juga tertunduk; terutama karena malu. Malu karena tidak mengerjakan hal-hal yang akan mengantarkannya kepada cinta dengan sebaik-baiknya. Malu karena hatinya masih sering mendua.
Ketiga, banyak menyebut dan mengingatnya. Ini adalah tanda cinta yang sering tampak pada diri seseorang saat ia mencintai sesuatu dan terkadang tidak disadarinya. Seringkali, orang lain yang lebih dulu menyadari ada perubahan pada dirinya. Pun demikian laiknya orang yang mencintai Allah. Menyebut-Nya dalam suka dan duka, serta menjadikan bibir senantiasa basah dengan dzikir adalah tanda cinta kepada-Nya telah bersemi di hati.
Keempat, tak sabar untuk berjumpa dengannya. Salah satu tanda cinta kita kepada Allah adalah jika kita rindu untuk segera berjumpa dengan-Nya. Semua tahu, hanya satu kata yang akan melepas kerinduan itu. Kematian. Namun ketika hal itu ditanyakan kepada kebanyakan kita, jawaban yang terlontar adalah ‘belum siap’. Jadi, benarkah kita mencintai Allah?
Kelima, mencintai negerinya. Negeri di mana orang-orang yang mencintai Allah akan berjumpa dengan-Nya dan memandang wajah-Nya adalah surga di akhirat kelak. Maka, jika ada orang yang mengaku mencintai Allah dengan sepenuh hati tetapi ia masih sibuk dengan dunianya, pengakuannya masih dipertanyakan. Bukannya tak boleh mengurus dunia, tetapi yang tak boleh adalah tertipu dan menjadi lalai oleh dunia.
Keenam, mencintai apa saja yang dicintainya dan berhubungan dengannya. Seorang pecinta sejati akan mencari tahu apa saja yang dicintai oleh yang dicintainya. Juga, jika ia jauh dari kekasihnya, ia akan mencari kabar atau apa saja yang berhubungan dengannya. Adalah Allah telah memudahkan urusan ini. Semua yang dicintai-Nya dan berhubungan dengan-Nya, telah Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya. Yang tersisa tinggal pembuktian dari mereka yang mengaku mencinta. Ketujuh, bersemangat saat dikun-junginya. Seorang pecinta akan bergembira dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya saat tahu kekasihnya akan mengunjunginya. Apalagi ia diberitahu bahwa kekasihnya akan membawa semua kesenangannya. Jika kita mengaku mencintai Allah, Rabbul ‘alamin, mari kita dengarkan, “Pada sepertiga malam yang terakhir,” demikian utusan Allah menjelaskan, “Allah turun ke langit dunia.” Seberapa seriuskan kita mempersiapkan diri kita saat itu?
Kedelapan, senang dengan apa yang disenanginya. Seorang suami atau istri yang benar-benar mencintai pasangannya, ia pasti akan menyesuaikan diri dengan keadaan kekasihnya. Ia akan berusaha menyenangi apa yang disenanginya, meski awalnya agak dipaksakan. Begitu pun dengan orang yang mencintai Allah. Salah satu tandanya, ia tidak akan melewatkan sesuatu yang dicintai oleh Allah, kecuali ia ikut ambil bagian di sana.
Kesembilan, suka berduaan dengannya. Terutama di saat sepi, sunyi, dan tidak ada yang mengganggu. Bagi orang yang mencintai Allah, saat itu adalah saat ia sujud ~karena itu adalah saat ia paling dekat dengan-Nya~ dan di sepertiga malam yang terakhir, karena alasan seperti tersebut sebelumnya.
Kesepuluh, menjauhi segala hal yang menjauhkannya darinya. Karena orang yang mencinta selalu ingin dekat dengan kekasihnya, secara otomatis ia tidak suka kepada semua perkara yang akan menjauhkan dirinya dari kekasihnya. Jadi, orang yang mencintai Allah, pantang bermaksiat. Kalau pun itu dilakukannya ~dan tidak ada manusia yang selamat dari hal ini~ ia akan segera kembali kepada-Nya, ia akan segera bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk meraih kembali cintanya.

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting